Si Mbok dan Gianto

“Mbok, aku pamit berangkat kerja saiki juga, aku arep jadi TKI,” terdengar suara Gianto berpamitan pada Mbah Ngatinem.    

Mereka berdua tinggal di sebelah rumahku persis.  Jarak rumah kami hanya dibatasi pagar bunga kacapiring sehingga percakapan mereka sering terdengar jelas sampai rumahku.  Berulang kali aku saksikan tingkah laku Gianto yang semena-mena terhadap ibunya.

“Hah, kok mendadak Le,  aku engko karo sapa, nek kamu kerja di luarnegeri?”  Mbah Ngatinem kaget dan terkejut mendengar putra semata wayangnya pamit pergi.

Wis gampang Mbok, iku ana Mbak Nisa karo tetangga lain yo ana, kabeh iso bantu nek Mbok butuh apa-apa,” jawab Gianto sekenanya.  “Oh iya Mbok, tanah ning buri omah ki wis ta dol karo Pakdhe Jarwo, duite ta silih kanggo tuku tiket!” kata Gianto sambil berlalu meninggalkan ibunya.

“Giantoooo, astagfiruloh kowe ….!” terdengar teriakan Mbah Ngatinem penuh dengan emosi.

***

Setahun kemudian

 “Mbah, Mbah, niki Dik Gianto telepon kawula, monggo matur Mbah.” 

Setengah berlari aku berikan telepon genggamku pada Mbah Ngatinem.  Sebelumnya telepon itu aku atur dengan setelan pengeras suara agar memudahkan Mbah Ngatinem mendengar suara Gianto. 

Walah, Alhamdulillah Le koe iso telepon si Mbok, piye sehat-sehat, ning endi saiki, Le?”  Mbah Ngatinem sumringah menerima telepon dari anaknya.  Pancaran mata tua itu menunjukan rindu yang membuncah setelah setahun berlalu tanpa ada kabar berita dari Gianto.

Ning Malaysia Mbok.  Tulung kirimi aku duit lima juta kanggo muleh Mbok!”  terdengar suara Gianto dari seberang telepon meminta uang kepada Ibunya.

Sesuk kalo iso di transfer yo!”  Tanpa basa-basi Gianto berkata, membuat hatiku merasa miris.

Yo wis Le, ngko Mbok transfer, kowe ojo kuatir,” kata Mbah Ngatinem berusaha menenangkan keresahan Gianto. Sejurus kemudian terdengar suara Gianto pamit dan menutup teleponnya dari seberang.  

“Mbak Nisa, nyuwun tulung yo sesuk anter Mbah transfer uang buat Gianto,” kata Mbah Ngatinem kepadaku sambil menyerahkan telepon genggam dengan muka yang penuh resah.

“Nggih Mbah,” jawabku tanpa banyak tanya.  Padahal pertanyaan besar bergelayut dalam pikiranku, kenapa Gianto minta dikirimi uang?

Seharusnya dia yang mengirim uang kepada Ibunya. 

“Dasar anak durhaka!”  gerutuku dalam hati.

***

Sehari, seminggu, sebulan hingga setahun lebih setelah Gianto meminta kiriman uang, tak sekalipun terlihat batang hidung Gianto pulang.  Bahkan, Dia tidak pernah lagi menelepon Ibunya.  Ketika dihubungi nomor telepon Gianto di Malaysia, nomor itu sudah non aktif.

Setiap hari Mbah Ngatinem selalu duduk menanti kedatangan Gianto di depan rumahnya yang hampir ambruk.  Tubuh tua renta itu semakin terlihat rapuh dengan berbagai penyakit yang diderita. 

“Mbak Nisa, tulung telepon Gianto, bilang ndang pulang, mbok’e ki wis nggak iso apa-apa!” kata Mbah Ngatinem dengan suara yang sangat lemah.  

Tubuh itu sudah seminggu ini berbaring tak berdaya.   

“Mbak, apa Gianto takut aku nesu ya, dadi ngga mau moleh-moleh?” kata Mbah Ngatinem dengan mata nerawang. 

Aku hanya senyum dan membisu di ujung ranjang pembaringannya.

“Mbak, Aku wis ga kuat. Waktuku ndak lama lagi. Sampean tulung sampaikan ke Gianto, si Mboknya udah memaafkan semua kesalahan dia.  Mboknya ini kangen sekali sama Gianto, Mbok siang malam selalu mendoakan yang terbaik buat dia. Selalu memohon ampun atas segala dosa dosanya.“

Dengan berurai air mata, aku duduk tertegun mendengarkan semua perkataan Mbah Ngatinem. Seolah-olah tidak ada harapan lagi baginya bertemu Gianto.  

Di lubuk hati aku kagum pada sosok Mbah Ngatinem yang berhati mulia. Dia begitu ikhlas memaafkan semua kesalahan anaknya. kasih sayang seorang ibu memang benar-benar tanpa batas, meskipun kasih itu tak berbalas.

_END_

Catatan:

Saiki = Sekarang

Arep = Akan

Engko karo sapa = Nanti sama siapa

Wis = Sudah

Iku ana Mbak Nisa karo tetangga lain yo ana = itu ada Mbak Nisa dan tetangga lainnya juga ada

kabeh iso = semua bisa

Tanah ning buri omah ki wis ta dol karo Pakdhe Jarwo, duite ta silih kanggo tuku tiket = Tanah di belakang rumah ini sudah dijual kepada Pakdhe Jarwo, uangnya saya pinjam buat beli tiket.

Kawula = Saya

Monggo Matur = silahkan berbicara

Ning = Di

Nesu = Marah

Moleh = Pulang

Sampean = kamu

Tulung = Tolong

#OSOFFday6

#GenreFamilydrama

#KasihIbuTanpaBatas

#457kata

 

 

 

AnnisaNoorman

simple person with simple life, not perfect but uniq.
Raisha Noorman

Related posts

Leave a Comment