Proyek yang Gagal

“Sudah siap hari ini menghadapi anak-anak?“ tanya Silvia pada Nana dan Cici.

“Siap,“ jawab Nana dan Cici serempak. Cici melirik Nana dengan sinis. Namun, buru-buru ia menutupinya dengan senyuman.

Hari ini Nana dan Cici mulai bekerja di day care. Anak yang akan mereka asuh adalah anak-anak Sekolah Dasar (SD) kelas satu hingga empat.

Nana diminta mempersiapkan meja untuk makan siang, sedangkan Cici diajak Silvia menjemput anak-anak dari sekolah mereka.

Cuaca yang saat itu tidak bersahabat, gerimis mengundang sejak pagi, membuat Nana menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian, Silvia mengajak Nana menjemput anak-anak dan meminta Cici mempersiapkan meja untuk makan siang mereka.

Di perjalanan, Silvia banyak bercerita tentang Cici.

Rupanya sejak hari pertama bekerja, Cici sudah tidak suka pada Nana. Dia menjelek-jelekkan Nana pada Silvia.

Sungguh aneh buat Nana karena mereka hanya bertemu sekali saat wawancara dan Nana yang bersimpati pada cerita Cici tentang keluarganya, mendoakan yang terbaik bagi Cici.

Nana menghela napas. Sungguh tidak menyangka Cici tega berbuat seperti itu.

Ternyata Cici tidak hanya menjelek-jelekkan Nana pada Silvia, tetapi juga pada beberapa kolega lain dan anak-anak asuh mereka.

“Nana itu nggak bisa kerja, dari kecil dimanja sama orang tuanya, dia sendiri, loh, yang cerita ke aku,“ cerita Cici pada Ana.

Ana tidak menanggapi, membuat Cici kesal dan beralih ke anak-anak.

“Bu Nana itu anak orang kaya, dia nggak butuh recehan dari ngasuh kalian, makanya dia jarang kan mengajak kalian main atau bikin prakarya?“ hasut Cici.


Anak-anak pun merasa bahwa Nana tidak seperti yang di gambarkan Cici. Bahkan sebaliknya, Nana sering membawa makanan dan kue buat mereka.

Nana memang sangat perhatian pada anak-anak asuhnya.

Ada beberapa anak yang tidak ikut makan siang di day care, mereka membawa bekal dari rumah. Namun, terkadang mereka sudah menghabiskan bekal saat jam istirahat. Nana akan membelikan roti buat mereka.

Nana juga tidak segan memberikan hadiah, jika mereka berhasil mengerjakan tugas sulit atau ketika bersikap baik sepanjang hari.

Kadang Nana khusus membuat lomba bagi anak-anak yang bisa menggambar atau membuat puisi dan memberi hadiah kepada semua peserta lomba.

Semua hadiah darinya pribadi. Memang itu kelebihan Nana, seperti yang disebutkan oleh Cici, Nana tidak butuh gaji dari day care. Dia bekerja karena hobi dan ingin menghabiskan waktunya dengan anak-anak.

Cici tidak pernah mengetahui hal ini. Dia mengira hadiah lomba adalah pemberian dari day care tempat mereka bekerja.

Hingga suatu hari, dia mengajukan proposal untuk membuat lomba dan meminta persetujuan bos mereka.

“Bu, ini proposal saya. Saya akan membuat lomba menggambar di kanvas. Ada 20 anak yang akan ikut lomba.
Ini rincian biayanya,“ jelas Cici dengan percaya diri.

“Baiklah, saya pelajari dulu, nanti saya beri kabar ya,“ jawab Bu Mara.

“Giliran Nana, langsung disetujui, cepet prosesnya, sekarang pake dipelajari dulu,“ sungut Cici pada dirinya sendiri, saat keluar dari ruangan Bu Mara. Tetapi malang baginya, Bu Mara yang juga keluar ruangan mendengar ucapannya.

“Nana tidak pernah memberi rincian biaya, hanya memberi tahu proyek apa yang akan dikerjakan bersama anak-anak dan menyerahkan laporan setelah semua selesai. Semua biaya dia yang tanggung,“ jelas Bu Mara dan sukses membuat Cici melongo, mulutnya terbuka matanya mendelik, hampir meloncat ke luar.

Saat Cici bertemu anak-anak yang sudah tidak sabar dengan proyek menggambar di atas kanvas, dia bingung, bagaimana menjelaskan pada mereka kalau proyek itu masih menunggu persetujuan Bu Mara?

Sedangkan dia sudah menyombongkan diri akan membuat proyek lebih hebat dari Nana. Yang selalu dia jelekkan di depan anak-anak asuh mereka.

Cici kehilangan muka dan dia merasa malu untuk meminta bantuan Nana atau kolega yang lain. Semua kolega sudah tahu betapa busuknya hati Cici.

Nana yang juga kesal akan kelakuan Cici, tidak menawarkan bantuan apapun. Dia memilih membuat proyek tandingan.

Dengan cepat, proyek membatik Nana mulai berjalan. Nana mempersiapkan semua bahan bahkan memanggil extra seorang guru untuk memberi contoh bagaimana membatik yang benar.

Cici yang merasa malu proyeknya tidak mendapat persetujuan, memilih mengerjakan tugas dapur daripada bertemu muka dengan anak-anak yang selalu bertanya tentang proyek menggambar di atas kanvas.

***selesai***

 

 

Natasha Panjaitan-Karg
Natasha Panjaitan-Karg

Latest posts by Natasha Panjaitan-Karg (see all)

Related posts

Leave a Comment