Keluarga Baru Rani

Suara azan terdengar sayup-sayup di kejauhan. Namun, badan serasa letih dan mata ini berat untuk terbuka. Hangatnya selimut seolah menjerat untuk kembali melanjutkan mimpi.

Hari ini terasa berbeda. Hawa dingin yang biasanya membelai kulit tidak terasa. Kuluruskan kaki dan meregangkannya sejenak untuk mengusir rasa malas yang menggayut.

Ya, Allah! Apa yang terjadi padaku? Mengapa rasa enggan untuk bangun begitu membius? batinku meronta ingin mengalahkan kenyamanan yang terasa.

Entah berapa lama aku tertidur dalam posisi miring ke kanan karena kesemutan mulai menjalar di tangan kananku. Pelan-pelan aku berganti posisi dengan membalikkan badan untuk miring ke kiri. Alhamdulillah, kesemutannya berangsur-angsur hilang.

Namun, tunggu dulu. Ada sesuatu yang tidak wajar di kamarku. Entah apa aku belum menemukan jawabannya. Dengan mata terpejam, aku berusaha berpikir keras dan menganalisa keadaan.

Aku mencium aroma aneh yang makin lama kian menusuk hidung. Seperti wangi tubuh seseorang. Dadaku berdesir dan jantung mulai berdebar tidak karuan. Dan hembusan angin yang terus-menerus menerpa wajahku? Apakah ini napas orang itu? Sedikit demi sedikit kubuka mata dengan hati-hati. Tanganku mengepal menyiapkan tinju.

Aku terkejut! Dugaanku benar. Ada seseorang yang masuk kamar tanpa permisi. Mungkin dia pencuri atau perampok yang ingin memperkosa.

“Tolong! Toloong!” teriakku sekeras mungkin. Aku berharap seisi rumah bahkan tetangga sekitar mendengarnya.

Dengan sekuat tenaga kudorong tubuh yang mendadak memelukku. Rasa takut yang sedari tadi menghantui kubuang jauh-jauh.

Badanku menggigil gemetar membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu jika aku ketakutan. Oh, tidak! Aku tidak boleh menyerah. Tubuhku bergidik membayangkan lintasan-lintasan peristiwa yang bakal terjadi.

Tubuh lelaki misterius itu terlempar dari kasur dan jatuh ke lantai dengan keras. Aku langsung bangun dan mengejarnya. Kutendangi perut dan dadanya bertubi-tubi. Aku tidak mau memberinya ampun. Biar saja dia rasakan akibatnya.

“Aduhh! Tolong! Stop! Badanku, aaaaarghhh …,” rintih lelaki itu terdengar memelas. Tubuhnya menggeliat kesakitan.

Merasa mendapat kesempatan, kutendang lagi tubuhnya dengan keras sebelum dia berbalik menyerang.

“Astagfirullah! Hegghhh …,” teriaknya seraya memegangi perut dan dadanya.

Aku tak mau lengah. Kurenggut krah bajunya dengan paksa, sekalian ingin melihat tampang penjahat itu.

“Dasar penjahat! Rasain! Sebentar lagi aku akan membawamu ke kantor polisi, biar di penjara. Kamu pikir bisa berbuat seenaknya?” gertakku sambil mempererat cengkeraman.

“Subhanallah. Kamu kenapa, Sayang?” tanya sebuah suara yang terdengar sedikit aneh di telingaku. Suara itu?

“Tolong, dada dan perutku sakit sekali. Kepalaku pusing. Hentikan menyiksaku seperti ini, ” pinta penjahat itu mengiba sebelum akhirnya jatuh terkulai, pingsan.

Di luar kamar terdengar suara ribut yang mengalihkan perhatianku.

“Rani! Ada apa, Rani?! Buka pintunya!” suara Ayah dan Ibu terdengar khawatir.

Aku segera berlari ke pintu dan membuka kuncinya. Tanpa babibu aku langsung menghambur ke pelukan ayah.

“Huhuu … ada maling masuk ke kamar, Yah. Tapi sudah kuhajar sampai pingsan.” Aku menangis dalam dekapan Ayah.

“Maling apa? Coba kita lihat bareng,” kata Ayah seraya masuk kamar dan menyalakan lampu.

“Innalillahi!” teriak semua orang hampir bersamaan.

Aku kaget bukan kepalang ketika melihat tubuh Mas Angga tergeletak di lantai. Rupanya yang kusangka maling adalah Mas Angga, orang yang baru sehari menikahiku. Maklumlah, biasanya aku tidur sendiri.

Pagi itu juga Mas Angga langsung mendapatkan perawatan yang intensif. Aku hanya bisa menangis dan menyesali apa yang telah terjadi karena lupa bersuami, menyebabkan lelaki yang kucintai terbaring tak berdaya. Hari pertama sesudah menikah yang bersejarah. Keluarga baru yang kubangun diawali di rumah sakit. Maafkan aku, Mas.

Bandung, 12 April 2019

titik jeha
titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment