Katering Ibu

Plak! Ibu menampik tanganku yang hendak menjimpit udang merah gemuk diantara kembang kol dan wortel.

“Kebiasaan, deh. Ini untuk acara perkawinan anak Pak Pri. Jangan main ambil aja!” lanjut Ibu. Lalu kujilat ujung jari yang baru menyentuh sedikit cap cay.

“Masakan Ibu kan banyak banget. Masa nyowel dikit aja enggak boleh,” sungutku kesal.

“Bukannya ndak boleh. Nanti aja kalau ada sisanya, baru kamu makan,” jawab Ibu sambil mencicipi rasa saus untuk steak.

“Ah, Ibu pelit,” sahutku.

Ibu sebenarnya bukan orang yang tidak mau berbagi. Hanya saja, untuk urusan hak dan kewajiban pelanggannya, ibu termasuk sangat disiplin dan hati-hati.

“Mending kamu bantuin ibu mengelap piring dan mangkok untuk prasmanan nanti.” Ibu meletakkan setumpuk piring di hadapanku.

Aku menghela napas berat. Kuambil serbet yang tergeletak tak jauh dari tempatku duduk. Piring-piring itu berdenting setiap aku meletakkannya. Iya, aku masih sebal dengan udang gemuk yang gagal memanjakan lidahku.

“Ya, halo Pak Pri.” Aku melirik ke arah ibu yang sedang menerima telepon. Aku memandangnya sesaat. Tampak wajah lesu dan kuyu di sana. Apakah yang sedang ibu dengar?

Aku merasakan suasana yang tidak enak. Namun, nyaliku terlalu ciut untuk menanyakannya pada ibu. Tidak biasanya ibu tiba-tiba berwajah muram seperti itu.

“Danuar, kamu boleh makan sepuasnya. Bahkan sampai tidak ada lagi tempat kosong di perutmu.” Entah kenapa ibu mengatakan hal itu.

“Lo, kenapa Bu?” Ada perasaan bahagia yang menyusup dalam dadaku, tetapi juga timbul beribu pertanyaan yang berkecamuk.

“Pak Pri membatalkan pesanannya. Pernikahan anaknya batal.” Ibu menjejalkan dua potong daging sapi bumbu merah yang kulihat asapnya masih mengepul.

Pasti panas sekali. Tapi aku rasa itu tidak seberapa dibanding dengan sakit hatinya karena masakan lezat yang telah dimasak urung dinikmati tamu undangan.

“Nanti tolong panggilkan Kang Umar. Semua makanan itu biar diberikan ke panti asuhan bulik Neha,” lanjut Ibu. Kemudian dia pergi ke kamar. Kulihat telapak tangannya memijat pelipis kepala.

Kasihan sekali, ibuku. Dia bahkan belum menerima sepeser uang pun dari Pak Pri.
=================

Soffa Minna
Soffa Minna

Latest posts by Soffa Minna (see all)

Related posts

Leave a Comment