Hilang dalam Dekapan

 “Ke mana arah jalan ini?”  Aku bertanya pada pemuda yang memapahku. 

 

“Mau dibawa ke mana aku?” tanyaku kemudian.  Pemuda itu tak menjawab, ia malah sibuk memaksaku untuk mengikuti langkahnya.

 

“Aku mau pulang!” hardikku ketika dia setengah memaksa aku untuk memasuki pekarangan sebuah rumah yang tampak asing itu.

 

“Bapak, ini kita sudah pulang, Pak!”  Pemuda itu berkata pelan dan berusaha menarik tanganku masuk rumah itu.

 

“Tidak, ini bukan rumahku, kamu siapa?”  Aku berkata dengan rasa curiga kepadanya.  Namun, kemudian beberapa orang penghuni rumah itu mendatangiku dan memaksa aku untuk tinggal.  “Aku ingin pulang, aku hanya ingin pulang!” Hanya kata itu yang terus kukatakan pada mereka.  Hati ini semakin gelisah karena sudah terlalu lama aku pergi dari rumah.

 

“Bapak, tenanglah, waktu sudah malam, Bapak istirahat di sini dulu, ya,” bujuk seorang wanita muda penghuni rumah itu dengan lembut.

 

“Tidak Nak, aku harus pulang, malam ini juga.  Anak-anakku pasti resah dan gelisah, kehilangan aku,”  jelasku pada gadis yang sangat mirip dengan putriku itu.  Mereka mungkin seusia.  Dia duduk mendekatiku, tiba-tiba gadis itu berurai air mata. 

 

Keadaan ini sungguh membuatku bingung.  Siapa dia dan kenapa dia menangis.  Ah, sudahlah itu bukan urusanku.  Hal yang harus kuurus adalah bagaimana aku bisa pulang segera.  Tapi, sebentar di mana alamat rumahku?  Mengapa aku lupa di mana alamat rumahku?  Ya Tuhan, aku lupa, bahkan aku pun tak bisa mengingat siapa namaku!

 

“Aarrrghh!” Aku berteriak sekuat tenaga, karena putus asa. 

Semakin kuat aku berusaha mengingat, semakin sakit kepala kurasakan.  Kesakitan itu terus bertambah dan semakin bertambah sakit.  Hingga aku merasakan kesakitan luar biasa yang tak dapat kubendung lagi.   Seketika aku tak berdaya.  Jatuh terkulai lemas di lantai.  Sayup-sayup kudengar, gadis itu berbicara pada pemuda di sebelahnya.

 

“Mas Gilang, Alzhaimer yang Bapak derita semakin parah, ujian buat kita kehilangan ingatan Bapak.”  Dengan sedih gadis itu berkata. 

 

“Iya, Dik.  Kita kehilangan Bapak dalam dekapan, tetapi setidaknya kita masih bisa berbakti merawat raganya.” 

_END_

#OSOFFday5

#KehilanganOrangTercinta

#GenreFamilyDrama

#323kata   

Raisha Noorman

AnnisaNoorman

simple person with simple life, not perfect but uniq.
Raisha Noorman

Latest posts by AnnisaNoorman (see all)

Related posts

Leave a Comment