Pertunangan Dini

Jam praktikum di Laboratorium Embriologi dan Genetika sudah berakhir.  Dosen pengampu pun segera mengakhiri praktikum hari itu. 

“Sampai di sini praktikum kita hari ini, saya mohon izin untuk hari Senin depan tidak masuk, nanti akan ada dosen pengganti, ya,” Tutur dosen muda berbadan atletis, beralis tebal, dan berjanggut itu. 

Pria muda yang selalu menggunakan shirwal, wajahnya sekilas mirip artis sinetron Teuku Wisnu.

“Cie, Dini, cie …,” goda Shirly kepada Dini yang tampak melongo dan matanya tak berkedip memperhatikan dosen muda itu.

“Rejeki Shir, kalo gue kedip jadi dosa, lagian dia keren banget,”  bisik Dini pada Shirly, sahabatnya dengan nada sedikit gregetan.  Tatapan matanya terus tertuju pada dosen muda yang sedang beranjak meninggalkan laboratorium.

***

Kerumunan mahasiwa tingkat dua kedokteran hewan di selasar depan laboratorium tidak menyurutkan langkah seorang laki-laki paruh baya untuk menemukan sosok anak gadisnya.  Dengan gesit, ia melewati beberapa kelompok mahasiswa yang menghalanginya.

“Din, Dini,” suara seorang lelaki paruh baya itu memanggil nama anak gadisnya.

“Babe, ngapain ke sini, sih?” sahut gadis bermata bulat, berkulit hitam manis saat melihat kedatangan babenya di kampus.

“Ya, jemput elu lah, ayo pulang!”  jawab Babe sambil menarik Dini dari kerumunan.  Dengan muka cemberut dan menunduk, Dini mengikuti langkah kaki babe menuju tempat parkir.

“Nah, kalo gini kan Babe tenang, kamu enggak akan diganggu sama cowok-cowok bau kencur,” kata Babenya Dini tersenyum lega sambil membukakan pintu untuk anak gadis semata wayangnya.

“Iiih, Babe nyebelin, DIni sebel sama Babe,” gerutu Dini seraya mengempaskan badannya duduk di samping Babe yang memegang kemudi.

“Jangan marah, dong, cantiknya Babe. Ini kewajiban Babe mesti menjaga elu sebelum besok tunangan,” ucap Babe sambil menancap gas mobil.

            “Be, orang tua lain mah pengin anaknya sukses dulu menggapai cita-cita,” ucapan Dini terhenti karena pita suaranya tercekat menahan tangis.  

“Ini Babe malah pengen Dini cepat nikah aja.  Gampang banget gitu jodohin Dini sama anak temen Babe, Dini aja enggak kenal orangnya,” cerocos Dini sambil berurai air mata.

“Din, Babe enggak ngalangin elu jadi dokter, Babe bangga juga ntar elu jadi dokter hewan.  Babe cuma jagain elu, enggak mau elu sembarangan bergaul.  Naudzubillah, dosa Babe kalo elu sampai kenape-kenape.”  Babe menjelaskan ke Dini sambil bergidik.

            “Ya, ampuun, Be!  Enggak bisa gitu percaya sama anaknya sendiri? Emang Dini cewek murahan.  Dengerin, dong Be, pendapat Dini!” timpal Dini dengan suara keras dan tangisannya yang semakin menjadi.

            “Udeh sampe nih, berhenti dah nangisnya, malu sama Bi Ijah,” kata Babe sambil menghentikan mobil.  Bi Ijah, pembantu mereka terlihat keluar dari rumah dan segera membukakan pintu pagar.  Babe segera memarkirkan mobil di garasi. 

Bi Ijah menghampiri Babe dan berkata, “Pak Haji, di dalam ada tamu, nyariin, namanya Haji Makmur.”

“Oh, iya Bi, calon besan ane tuh.  Cepet siapin makanan yang enak, terus langsung suguhin, ya!” pinta Babe sambil masuk ke dalam rumah.  Namun, sesaat badannya berbalik ke belakang dan berkata, “Din, ayo, cepet cuci muka, ampun dah, mata lu bengkak gitu.”

“Ogah ah, biarin aja begini apa adanya!”  jawab Dini ketus sambil ngeloyor masuk rumah lewat pintu samping. 

Dini langsung masuk membenamkan diri dalam kamarnya.  Di dalam kamar, ia berpikir keras agar hari pertunangan esok tidak terjadi.  Tiba-tiba muncul ide untuk melarikan diri, kabur ke rumah Uwak Jajang di Garut, kakak dari mendiang ibunya.

“Hanya Uwak Jajang yang bisa menghentikan pertunangan konyol ini dan bisa memberikan masukan kepada Babe,” batin Dini sambil segera mengemasi beberapa baju kedalam tas ranselnya.  Lalu dengan perlahan, dia menyelinap keluar kamar menuju pintu samping rumah.

            Yes, berhasil!  teriak hati Dini ketika ia sukses melalui halaman rumah dan telah berada di balik pintu pagar rumahnya yang tinggi.

“Assalamualaikum, maaf, ini betul rumahnya pak Haji Syukur,” suara itu terdengar sangat dekat di telinga Dini.

“Waalaikumussalam, be … betul, Pak Damar?”  jawab Dini terkejut, heran dan grogi melihat sosok dosen muda Embriologi dan Genetika dasar berada di depan rumahnya.  Sikapnya jadi kikuk berhadapan dengan dosen muda itu.

“Nah, ini dia calon mantu Babe, Din.  Gimana, Dini udah kenal sekarang?  Masih mau nolak atau besok jadi tunangan nih,” goda Babe sambil menghampiri.

            “Ah … Babe, maafin Dini, ya Be,” kata Dini sambil lari memeluk Babe.

_End_

#OSOFFday4

#HariPertunangan

#YoungAdultGenre

#674kata

AnnisaNoorman

simple person with simple life, not perfect but uniq.
Raisha Noorman

Related posts

Leave a Comment