Karena Nila Setitik

Rumah bercat cokelat di ujung Jalan Sakura itu tampak ramai.  Terlihat hilir-mudik orang keluar masuk.  Bleketepe sudah terpasang di atas gapura pintu utama.  Kurang dari satu minggu lagi pernikahan anak sulung di rumah itu akan berlangsung. 

Margono pemilik rumah terlihat sibuk mengatur pekerja yang memasang tenda. Sore ini akan diadakan pengajian demi kelancaran acara pernikahan esok hari.  Di tengah hiruk- pikuk itu, tiba-tiba sebuah mobil yang tak asing lagi bagi Margono berhenti di depan pagar.  “Loh, mobil Nak Denny?” gumamnya penuh tanda tanya.

“Assalamualaikum, Pak,” salam Denny kepada Margono disertai cium tangan kepada calon ayah mertua.

“Waalaikumsalam, Nak Denny, ada hal penting apa ini sampe kamu ke sini sekarang?” selidik Margono sambil  menarik calon menantunya itu masuk ke dalam rumah.  Mereka berdua lalu duduk di sofa ruang tamu.

Inggih Pak, nuwun sewu, Ibu kaliyan Dita wonten?” pertanyaan Margono dibalas Denny dengan menanyakan calon ibu mertua dan calon istrinya.

“Gimana Nak, Ibu kaget ini Nak Denny kenapa ke sini, mestine pingitan,” terdengar suara cemas Sulis menghampiri, lalu duduk di hadapan Denny.

Nuwun sewu Bu, menawi Dik Dita bisa dipanggilkan sekalian nggih,” pinta Denny kepada Sulis.

Sulis segera beranjak dari tempat duduk, ia masuk ke dalam sebuah kamar yang tak jauh dari ruang tamu.  Tak lama kemudian, ia kembali bersama Dita Pitaloka anak gadis semata wayangnya. 

Dita tersenyum manis penuh cinta ketika pandangannya saling beradu dengan Denny.  Lain hal dengan Denny, senyum yang tersungging begitu kaku.  Dita kemudian duduk di samping Sulis.  Pikirannya mulai dipenuhi oleh berbagai macam prasangka.  Segera ia tepis dan mulai mengalihkan perhatian pada lelaki tinggi tegap di hadapannya.

“Hmm … Pak Margono, Ibu Sulis dan Dik Dita, saya hari ini datang dengan segenap kekuatan diri, sebelumnya saya mohon maaf, saya,”  Denny berbicara mulai terbata- bata, tidak seperti ketika datang pertama kali.

“Mas, ada apa ini? Jangan aneh-aneh, Mas,” tanya Dita dengan bibir bawahnya bergetar penuh kecemasan.

“Maaf Dik, Pak, Bu, saya kesini untuk membatalkan pernikahan,” suara Denny terdengar tercekat.  Seakan tenggorokannya kering dan tak mampu lagi mengeluarkan kata- kata.  Namun, kalimat itu terdengar bagai halilintar yang menyambar hati ketiga anggota keluarga Margono Suryodisastro.

“Hah, coba ulangi sekali lagi? Bapak kurang jelas mendengar,” pinta Margono dengan wajah mulai memerah.

“Saya mohon maaf, Pak.  Saya bermaksud membatalkan pernikahan dengan Dik Dita.  Karena beberapa hari ini, mama saya sakit hati dan sangat tersinggung dengan perkataan Dik Dita yang diunggah dalam media sosialnya.”  Beber Denny mengeluarkan semua permasalahan yang sedang terjadi.

“Perkataan apa itu? Coba jelaskan, Bapak tidak mengerti,” tanya Margono kepada Denny, disertai amarah yang mulai berkecamuk.

“Ini Pak, unggahan status media sosia Dik Dita yang mencibir wanita hamil dan punya anak tanpa menikah.  Padahal Dita tahu posisi mama saya pun seperti itu,” jawab Denny dengan kepala tetap menunduk.

“Ya, ampun, Mas, mama salah paham.  Keputusan ini tidak adil, Mas,”   Dita melepas berang pada Denny dengan nada tinggi dan isak tangis yang tak dapat terbendung.

“Tak bisakah dibicarakan dahulu, kalau batal nikah, ibu jelas – jelas sangat kecewa Nak Denny,”  Sulis mencoba tenang dan menahan amarah kepada Denny.

“Mohon maaf sekali lagi, saya tahu ini sangat mengecewakan buat keluarga sini, tapi saya tidak mau menjadi anak durhaka, Bu,” jelas Denny sambil berlinang air mata.  “Saya lahir dan dibesarkan seorang diri oleh Mama, berkat kerja keras, keringat dan air mata Mama, saya bisa menjadi seperti sekarang ini,”  tutur Denny dengan air mata yang mulai menetes di kedua pipinya.  

“Jadi, selama ini kamu hanya mempermainkan anak saya?”  kecam Margono kepada Denny yang tertunduk.

“Tidak Pak, saya serius mencintai Dik Dita.  Namun bagi saya, kebahagiaan Mama segalanya.  Meskipun harus meninggalkan Dik Dita yang saya cintai.  Saya pun siap mengganti rugi, bahkan nyawa pun siap saya pertaruhkan,” jawab Denny sambil mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

_End_

#OSOFFchallenge

#620kata

#fikminJoeraganArtikel

AnnisaNoorman

simple person with simple life, not perfect but uniq.
Raisha Noorman

Related posts

Leave a Comment