“Surprise”

Titik Jeha

Siang ini, Dewi menyetujui ajakanku untuk makan siang di Cibiuk, Rumah Makan Sunda di Jalan Sukarno Hatta. Wow, alangkah senang hatiku, akhirnya mampu merebut hati gadis idaman itu dari Rendi. Cowok sok alim yang jago karate, anak semata wayang Mak Icah tetanggaku.

Untuk pertama kalinya aku akan makan siang bareng dengan cewek, berdua saja. Pengalaman yang selama ini kutunggu dan ingin kurasakan. Duh, betapa indahnya. 

Kunaiki motor Ninja kesayanganku dengan semangat menuju ke rumah Dewi. Aku mendadak merasa menjadi laki-laki yang paling gagah sedunia.

Rupanya Dewi sudah menunggu kedatanganku. Gadis itu tersenyum menyambut. Wajah yang lembut dengan mata bulat indah, hidung mancung, dan bibir merah merekah, membuatku tak ingin berhenti menatapnya. Pakaian yang membalut tubuhnya kian memperjelas kemolekannya, sungguh memesona.

Dadaku deg-degan tak karuan saat kedua tangan mulus Dewi melingkar erat di pinggang. Apalagi ketika tubuh gadis itu menempel di punggung, membuat jantung ini seolah mau lompat. Kutarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan untuk menjaga stabilitas birahi yang mulai bergejolak.

Aku merasa sangat beruntung, di sepanjang perjalanan bisa memegang tangan Dewi yang erat memeluk. Kuberanikan diri mengelus dan menikmati sensasi sentuhan kulitnya yang lembut. Ada geletar indah di dalam dada yang tak bisa kuungkap dengan kata-kata. Dewi diam saja, sepertinya dia juga menikmatinya.

***

“Kang Asep, kita pulang, yuk!” ajak Dewi setelah selesai makan.

Aku memandangnya, bengong.

“Kenapa buru-buru, Neng. Sebentar lagilah. Makanannya biar turun dulu,” selorohku.

“Lima menit aja, ya! Habis itu antar aku pulang!” pinta Dewi merajuk.

“Kenapa pulang sekarang? Katanya mau nonton?” ujarku tak bisa menahan kecewa yang mencuat.

Rencana untuk mengungkapkan perasaanku padanya ada sinyal tertunda.

“Heheee, maaf. Lain kali aja ya, Kang,” ucap Dewi manja. 

“Baiklah, Cantik. Sekarang Akang siap mengantar pulang,” kataku seraya memegang kedua tangannya.

“Terima kasih, Kang Asep yang ganteng,” puji Dewi tertawa renyah.

Aku pun tertawa, hatiku serasa berbunga-bunga.

***

“Kang Asep tunggu di ruang depan sebentar, ya. Jangan pulang dulu. Ada yang mau Neng kenalkan. Mudah-mudahan dia ada di dalam,” kata Dewi dibarengi senyumnya yang menggoda. 

Aku mengangguk setuju sembari menahan gejolak penasaran yang mulai mengganggu.

Beberapa menit kemudian Dewi keluar. Dia menggandeng mesra seseorang yang sangat kukenal. Mukaku terasa panas melihatnya. Dadaku bergemuruh bagai genderang perang yang ditabuh.

“Nah, ini dia yang mau aku kenalkan, Kang. Namanya Rendi,” tutur Dewi tanpa ada rasa bersalah. Mata gadis itu berbinar indah.

Rendi menyalamiku. Di bibirnya tersungging senyum kemenangan.

Bandung, 17 Januari 2019

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment