Air Mata Ayah

“Mohon maaf, Pak. Putra Bapak tidak diperkenankan untuk kembali ke sekolah ini sebelum melunasi tunggakan uang sekolah,” ujar petugas  tata usaha sekolah kepada ayahku.

“Tolong beri kami waktu, Pak. Kami pasti bayar, hanya saja kini kami belum memiliki uang. Kami sedang mengusahakan menjual rumah kami,” Ayahku berusaha agar aku masih diperbolehkan bersekolah di sini.

“Silakan diusahakan cari dulu uangnya, mungkin bisa pinjam saudara, teman, atau kemana saja, saya juga jual apa  saja untuk sekolah anak saya,” ujar petugas itu lagi. 

Ayahku terdiam kecewa dan pasrah. Usahanya tidak berhasil, dia hanya menghela nafas berat. Beranjak dari tempat duduknya lalu mengajakku meninggalkan ruangan itu.

Aku mengikuti langkahnya dalam diam. Di benakku berkecamuk berbagai asa. Sedih, sesal, kecewa, dan marah campur aduk menjadi satu.

Tidak! Aku tidak marah pada ayahku. Dia tak pernah mengecewakan, selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Aku sangat tahu soal ini.

Aku marah pada peraturan yang kaku, tidak humanis, dan selalu berorientasi materi. Tidak ada toleransi kalau menyangkut masalah uang. Padahal selama ini uang sekolah selalu dibayar lunas setiap bulan. Benar-benar tidak adil! batinku geram.

“Bereskan barang-barangmu! Kita pulang!” perintah Ayah yang  mendadak berhenti melangkah dan berbalik menghadap kepadaku.

“Untuk sementara kamu belajar di rumah saja. Sampai Ayah dapat uang baru kamu kembali lagi ke sekolah.” Ayah menyelesaikan ucapannya dengan suara agak serak.

Aku tercekat mendengarnya. Belum pernah seumur hidupku melihat putus asa tergambar di wajah ayah. Terlebih sesaat sebelum beliau memalingkan wajah kembali ke depan, sempat kulihat setitik air loncat dari kedua matanya.

Ayah menangis!

“Jangan lama-lama! Ayah tunggu di tempat parkir motor,” ujarnya sambil meneruskan langkah menuju ke lapangan parkir  di depan sekolah.

Aku hanya bisa mengangguk  lalu bergegas  menuju loker tempat penyimpanan barang-barangku. Tidak mau membuat lelaki yang kuhormati itu menunggu terlalu lama.

Di depan loker berdiri Pak Andi pegawai bagian keuangan sekolah yang baru saja ditemui ayahku. Mendadak amarahku timbul, segera kuhampiri dia, lalu dengan sekuat tenaga kulayangkan tinju ke wajahnya berulangkali. 

Gara-gara dia ayahku sampai mengeluarkan air mata!. 

Gara-gara dia aku putus sekolah!.

Belum puas rasanya sebelum dia minta ampun padaku dan ayahku.

“Rendy! Rendy!” Seseorang memanggil namaku terdengar memekakkan di telinga. Terasa juga guncangan keras tubuhku.

“Rendy! Hei, kamu ngapain bengong di depan loker?” tanya Vino yang memandangku dengan heran. 

“Hah? Apa?” Aku balik bertanya linglung.

Mataku memandang sekitar dengan heran, tidak tampak Pak Andi, yang ditinju sampai babak belur tadi. Yang ada di hadapannya cuma Vino.

“Cari siapa?” tanya temannya itu.

“Pak Andi. Tadi bukannya ada di sini?”

“Pak Andi? Ngaco aja kamu, dari tadi cuma ada aku dan kamu di sini,” Vino heran dengan kelakuan Rendy.

“Kamu melamun kali, Ren,” ujar Vino.

“Istigfar Ren, jangan-jangan kamu kemasukan setan.”

Tangerang,20 Januari 2019

Follow me
Nusifera Sundari
Follow me

Latest posts by Nusifera (see all)

Related posts

Leave a Comment