Calon Mantu

Di ruang tengah rumah Bu Adi …

“Bi, nanti gosok bajunya yang rapih!” perintah Bu Adi pada asisten rumah tangganya, Bi Umi.

“Baik, Bu,” jawab Bi Umi sopan. Meski majikannya berusia lebih muda dari dirinya, dia tetap bersikap hormat.

“Awas hati-hati kalau gosok baju saya, kalau rusak Bi Umi enggak akan mampu beli buat gantiin.” Ucapan terakhir Bu Adi terasa menggores hati kecil Bi Umi. 

Bi Umi bukan sekedar asisten rumah tangga biasa, beliau tahu banyak tentang segala hal. Pekerjaannya yang sering dipandang sebelah mata ini,  tidak menghalangi dirinya untuk menimba ilmu dari mana saja.

Terutama bila ilmu itu berkaitan dengan pekerjaannya. Maka, tak heran bila dia tahu cara menangani urusan kerumahtanggaan, termasuk bisa membedakan jenis-jenis kain dan bagaimana memperlakukan kain tersebut.

Bu Adi memang sudah terkenal bermulut tajam. Entah berapa orang yang sudah terkena ketajaman lisannya. Sikapnya yang menganggap diri sebagai orang paling kaya dan juga suka meremehkan orang lain  kerap menjadikannya sasaran pergunjingan ibu-ibu satu RT.

“Nanti sore calon mantu saya, mau dolan ke sini.” Bu Adi bercerita tanpa diminta. 

“Memangnya Neng Dian sudah dilamar, Bu?” tanya Bi Umi menanggapi dengan sopan.

“Ya … belum, sih. Tapi sepertinya dia suka sama Dian. Paling juga, enggak lama lagi akan dilamar.”

“Dia anak orang kaya, Bi. Jabatannya sekarang direktur di perusahaan besar, pokoknya siapa yang jadi istrinya bakalan hidup terjamin,” ujar Bu Adi dengan mata berbinar.

“Oh … mudah-mudahan ya, Bu. Neng Dian segera dilamar,” doa Bi Umi tulus. Sementara majikannya tidak menggubris,  sibuk dengan angannya bermantukan orang kaya.

Dan seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, rumah besar keluarga Bu Adi sore itu kedatangan tamu. Seorang pemuda ganteng yang datang mengendarai BMW seri terbaru.

Neng Dian, begitu Bi Umi biasa memanggilnya, terlihat menyambut tamu yang  datang.

“Masuk, Ren!” ajak Dian kepada Reno, pemuda yang baru datang itu.

“Iyaa, terima kasih,” sahut si pemuda sambil melangkah memasuki rumah.

“Eh, ada nak Reno,” tiba-tiba saja Bu Adi sudah muncul di ruang depan, turut menyambut.

“Apa kabar, Tante?” tanya Reno sopan sambil menyalami Bu Adi.

“Alhamdulillah, baik.”

“Sebentar ya, Ren, kupanggil dulu Bi Umi,” ujar Dian langsung ke dalam rumah. Tak lama sudah keluar sambil menggandeng Bi Umi.

“Ini Bi Umi yang ingin kamu temui,” ujar Dian begitu keduanya sudah berhadapan dengan Reno.

“Loh, memangnya ada apa Reno ingin ketemu Bi Umi?” tanya Bu Adi tak mengerti. Dian tersenyum lalu berkata,

“Jadi gini, Ma. Reno ingin ketemu sama Bi Umi karena mau melamar anaknya Bi Umi, si Sekar untuk jadi istri.” 

Tangerang, 23 Januari 2019

Nusifera Sundari
Follow me
Nusifera Sundari
Follow me

Latest posts by Nusifera (see all)

Related posts

Leave a Comment