Cinta Kartika

Titik Jeha

Kali ini Kartika sengaja tidak ikut menengok mertuanya. Firman telah mengizinkannya. Ia ingin bermalam di rumah Santi. Kata Santi, suaminya sedang pergi keluar kota.

Sudah sangat lama kedua perempuan cantik yang bersahabat sejak SMA itu tidak bertemu. Maklum, mereka sama-sama telah berumah tangga. Lagi pula, Santi baru setahun pindah ke Jakarta, setelah sekian lama tinggal di Bali.

***

Santi memeluk Kartika. Ditatapnya kedua mata perempuan paruh baya yang duduk di depannya itu seakan tak percaya.

“Kamu waras, kan, Tik? Atau jangan-jangan sedang konslet,” seloroh Santi menggelengkan kepala.

“Aku sadar dan sehat wal afiat, San. Kamu pikir oleng apa?” tukas Kartika tersenyum lebar.

Santi tidak bisa membohongi hatinya. Pasti ada alasan kuat mengapa sahabatnya melakukan itu. Perempuan yang normal akan berpikir ribuan kali untuk dimadu. Sedangkan Kartika, ia justru minta suaminya untuk poligami.

“Apakah sudah kamu pertimbangkan masak-masak, Tik? Coba renungkan lagi sebelum semuanya terjadi,” kata Santi hati-hati mencoba menasehati Kartika.

“Aku sudah pikirkan baik-baik, kok, San. Terima kasih mengingatkan. Kamu memang sahabat sejatiku. Doakan saja yang terbaik untukku, ya,” ucap Kartika meyakinkan Santi.

“Tentulah, Tik. Tapi, maaf. Bagaimana dengan keluargamu dan Firman? Apa kata mereka tentang hal ini?” tanya Santi lagi.

“Awalnya menentang. Tapi setelah aku jelaskan, mereka bisa menerima dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Kalau Firman, aku kira dia akan setuju. Mana ada lelaki yang menolak disuruh poligami. Yang ada pasti hepilah,” jawab Kartika tertawa kecil mencubit pinggang Santi.

Perempuan berambut coklat sebahu dengan mata bening itu tertawa. Namun, dalam hatinya masih belum bisa mempercayai semua kata-kata Kartika. Ia yakin, ada hal yang disembunyikan sahabatnya. Entah apa.

Malam telah larut, ketika samar-samar Santi mendengar suara isak tangis yang tertahan. Tangisan siapa? Kartika?

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Hatinya penasaran untuk mencari tahu apa yang terjadi. Perlahan Santi berjalan menuju kamar tamu tempat Kartika tidur. Suara itu semakin jelas terdengar.

Dibukanya pintu kamar yang tidak terkunci itu pelan-pelan. Tampak di depan mata, Kartika sedang terguguk dalam sujudnya. Rintihannya terdengar begitu menyayat hati. Santi menunggu dan membiarkan Kartika hingga selesai salat.

“Kamu enggak apa-apa, kan, Tik? Maaf, kalau aku tadi masuk ke kamar tanpa permisi,” kata Santi setelah mereka duduk di ruang tengah.

Kartika terdiam sesaat. Kegalauan mencuat di wajahnya. Hilang sudah ketegaran yang ia tampakkan tadi siang.

“Aku capek, San. Tujuh tahun menikah seperti tak berbekas. Mungkin aku yang salah. Rasanya lebih baik hidup sendiri daripada berdua tapi dunia seakan sepi,” ucap Kartika lirih, menunduk.

“Tapi, Tik. Apakah kamu pernah membicarakan masalah ini dengan Firman? Jangan-jangan hanya sepihak,” tukas Santi berusaha netral.

“Bagaimana menurutmu, jika seorang suami selalu menyebut dan mengangankan perempuan lain ketika bersama istrinya?” tanya Kartika sambil menyeka air mata yang mulai menetes membasahi pipi.

Santi hanya diam. Ia bingung harus mengatakan apa. 

“Jika Firman mau poligami, aku akan menyerahkan semua hak sebagai istri kepada istri mudanya. Tanpa harus berbagi denganku. Ia boleh memiliki Firman seutuhnya. Insya Allah,  aku ikhlas. Lagi pula, aku tidak bisa memberinya keturunan. Jadi, dia berhak untuk mengusahakan dan melakukan apa saja yang bisa membuatnya bahagia.”

“Terus bagaimana dengan kamu?” tanya Santi belum mengerti.

“Aku rela sendiri, San. Tapi demi menjaga nama baik keluarga, status tetap menikah. Aku tidak menginginkan hal lain termasuk mengharap belas kasih laki-laki. Toh, aku punya penghasilan sendiri. Tujuanku hanya satu, rida Allah. Meskipun hidupku nanti tanpa cinta Firman sebagai suami,” tutur Kartika begitu tenang.

Santi menghela napas panjang terusik oleh rasa bersalah yang mendalam. Ada beban yang menghimpit di dadanya. Ia tidak pernah menyangka Kartika akan berkunjung dan menceritakan kehidupan pribadi kepadanya. Perempuan itu bersyukur karena sahabatnya tidak pernah mengetahui kalau dirinya telah menikah siri dengan Firman setahun yang silam.

Bandung,  31 Januari 2019

titik jeha
titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment