Gejolak Hati Rara

Titik Jeha

Sebulan telah berlalu sejak kamu pamit ke Jakarta. Hari-hari yang kulalui kini terasa sepi. Perasaan hambar dan hampa menyusup di dada, sangatlah mendera. Membuat gelisah resah tiada tara.

Berulang kali kucoba menghalau rasa itu dengan berbagai cara, tetapi  tiada hasil. Yang terjadi malah sebaliknya, hati ini semakin merindu. Pada akhirnya aku akan kembali tersungkur dalam kepasrahan atas kuasaNya, sujud dan mengurai segala kegalauan di hamparan sajadah.

“Ra, hape!” teriak Mbak Nem pembantu Tante Elin.

“Iya!” sahutku.

Setengah berlari, kusambar ponsel yang tergeletak di meja makan. Kuterima telepon dari nomor tak dikenal itu dengan malas.

“Halo!“ sapa suara di seberang sana serasa akrab di telinga.

Aku mengernyitkan dahi, berpikir tentang pemilik suara. 

“Halo, Rara … ini aku, Aldi!”

Deg!

Tanpa sadar aku melonjak-lonjak saking gembira. Untung kamu enggak melihat tingkahku dan Mbak Nem juga tak memperhatikan. Jadi, aku tak perlu repot menanggung rasa malu.

“Halooooo!” teriakmu.

Sepertinya kamu mulai tidak sabar menunggu jawaban.

“Halo, Al! Iya, ini Rara. Maaf, masih enggak percaya kalau ini kamu. Nomor baru, ya?  Hampir saja enggak aku angkat tadi. Apa kabar, Al? Tumben telepon jam segini,” sahutku nyerocos.

Aku mencoba menjawab sewajar mungkin sembari menahan gejolak hati yang membuncah.

“Hahah, iya. Save nomor aku, ya. Ada berita penting banget yang harus kamu tahu.”

“Alaaah, kamu ini bisa saja. Berita apaan, sih?”

“Aku kangen kamu,” ucapmu lirih namun begitu jelas kudengar.

Ups!

“Apa, Al?” sahutku, pura-pura tidak mengerti.

Ada kesejukan yang merayap di sekujur tubuh, manakala kamu mengucapkan kangen. Aku sangat suka dan ingin mendengar kalimat itu lagi. 

“Aku kangen kamu, Rara. Sangat kangen. Kamu kangen aku enggak, sih?” tanyamu.

Aku tercenung dan tersenyum mendengar kalimat ini, bahagia.

“Enggaaak!“ jawabku sekenanya, tertawa. Kamu ikut tertawa.

Maafkan, Al. Sebenarnya aku sangat kangen dan kehilangan.

***

Alhamdulillah, permohonanku untuk resign akhirnya disetujui. Pihak manajemen kantor telah menerima alasanku untuk melanjutkan studi di Kota Gudeg tanpa banyak pertanyaan. 

Aku tahu, ini bukan keputusan yang mudah tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk dijalani. Hidup adalah pilihan dan aku harus berani memilih jalan mana yang harus aku tempuh. 

Hari ini aku telah membulatkan tekad untuk segera berlalu darimu dan kota ini. Walau dengan berat hati harus kutinggalkan Kota Solo yang telah banyak menorehkan kenangan.  Setidaknya bisa menjauh dari semua hal tentangmu dan Fina, meskipun hanya untuk sementara.

Ya, Fina. Sepupuku yang cantik, imut, dan lincah. Seorang mahasiswi yang cerdas, selalu ceria, dan bersemangat. Gadis yang mampu memenangkan perhatian hampir semua lelaki yang mengenalnya, termasuk kamu, Al. 

Menurutku, kamu dan Fina itu pasangan serasi. Kamu ganteng, cerdas, menarik, dan cool. Ditambah lagi kalian kuliah di jurusan yang sama. Cocok kan?

Apalagi di Jakarta kalian berdua berada di kelompok yang sama untuk menyelesaikan tugas akhir. Tentu akan semakin dekat dan akrab. Aku kian tak sanggup membayangkan. Daripada hati semakin berdarah dan merapuh, biar saja ku tenggelamkan rasa ini jauh ke dasar lautan kehidupan dan menimbunnya dengan batu karang.

***

Minggu pagi kali ini mampu menjeratkan kemalasan. Aku terperangkap. Hingga tak ingin menyapa embun maupun menikmati hangatnya matahari seperti yang biasa kulakukan. Enggan rasanya bercengkerama dengan angin sepoi yang berhembus di dedaunan. Hanya ingin bersembunyi di balik selimut tebal sambil merenda angan.

Aku masih meratapi kebodohan yang telah kuperbuat. Selama ini suka menyimpulkan sendiri tanpa berani konfirmasi. Hingga akibatnya harus ikhlas menerima sebuah konsekuensi logis atas sebuah keputusan.  

Tadi malam Tante Elin menelepon memberi kabar bahwa hari Sabtu depan Fina akan dilamar. Aku diminta hadir di acara lamaran tersebut.

Sejenak aku bingung harus senang atau sedih mendengar berita itu. Namun, kepalaku mendadak pusing dan tubuh serasa lemas tak berdaya, tatkala tahu siapa calon suami Fina. Namanya Dio, dia anak Jakarta dan bukan kamu. 

Sungguh, ada rasa bersalah yang bergemuruh di dada ini, Al. Tapi untuk apa, toh semua sudah terjadi. Mungkinkah takdirku bersamamu?

Bandung, 03 Januari 2019

 

 

titik jeha
titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment