T E R J E B A K

Titik Jeha Nano masih tampak duduk di samping gundukan tanah merah bertabur kembang setaman itu. Rasa kehilangan yang dalam tidak dapat disembunyikan dari wajah dukanya. Sejak tadi tangannya memegang dan mengelus papan kayu yang tertancap di pusara bertuliskan Kamti binti Wiryo Atmojo, ibunya. Marno, kakaknya, terlihat sibuk. Disambanginya kaum kerabat dan semua orang yang silih berganti datang takziyah, sambil sesekali menghampiri Nano yang duduk termangu di pinggir dipan tempat tidur ibunya. Nano sangat terpukul. Baginya, sosok ibu tidak dapat tergantikan. Perannya begitu lengkap. Dia bisa menjadi guru, ayah, teman, sahabat,…

Salah Jadwal

Etika Amatusholihah Hari ini Qudink masuk sekolah dengan semangat membara dan rasa percaya diri yang tinggi. Ia memakai seragam beratribut lengkap karena hari ini hari Senin dan akan upacara bendera. Ia berangkat pagi-pagi dan menjadi siswa yang paling pertama masuk ke dalam kelas. Bahkan, ketika penjaga sekolah yang bernama Pak Narji masih membersihkan kelas, si Qudink sudah masuk dan nyelonong saja. “Waduh mas, jangan masuk dulu ya. Ini masih saya pel.” Harap si bapak saat Qudink sudah masuk dua langkah ke dalam kelas. “Emangnye kenapa, Pak?”“ Ya, masih basah. Takut…

Dia

Etika Amatusholihah “Tadi dia di sini, Pak. Aku melihatnya!” “Enggak ada Bu, saya dari tadi di sini,” jawab Pak Toyo, tukang gorengan yang biasa mangkal di depan pagar Masjid Mubarok. “Ibu salah liat kali!” “Ya, Allah. Terus aku harus mencari dia ke mana, Pak?” “Enggak tau, Bu.” “Dia nggak pernah pergi sendirian Pak, dia selalu sama saya kalau pergi.” Aku masih celingak-celinguk dan mondar-mandir mencarinya. Perasaanku mulai tidak tenang dan khawatir. Pikiranku mulai macam-macam, jangan-jangan dia jadi korban penculikan, lalu dimutilasi dan dibuang ke sebuah tempat yang jauh. “Aduh …!”…