Sepotong Hati Tessa

Titik Jeha

Hai, Jo!

Apa kabarmu hari ini? Masihkah suka jalan pagi-pagi dan menyapa matahari? Atau duduk manis di halte mengamati lalu lalang orang berkendara?

Aku rindu padamu, Jo. Rindu menemani menyusur trotoar di pinggir jalan Slamet Riyadi, lalu menikmati secangkir kopi panas dan Surabi di Kedai Mbak Lastri. Hingga sinar mentari menghangatkan pagi.

Aku sengaja menulis ini setelah sekian lama pencarian tak kunjung menemukanmu. Tidak peduli apakah tulisan ini akan kau baca atau tidak. Meski harapku kamu membacanya entah kapan.

Aku ingin sekadar berbagi kegundahan yang menyelimuti batin, mengurai resah yang menyesakkan dada, sekaligus menemukan jawaban atas gelisahku tentangmu. Setelah lima tahun kita terpisah dan engkau di negeri antah berantah.

Jo.

Apakah kamu tahu bila hari itu adalah hari terburuk yang pernah aku lalui di sepanjang hidupku? Hari yang membuatku menangis sepanjang waktu bila mengingatmu.

Aku yakin, kamu pasti menuduhku sebagai pengkhianat yang tega menelikung teman sendiri. Menyalahkan, menuding, dan memvonisku dengan beribu label hitam yang menurutmu pantas untuk orang seperti aku.

Andai saja caci dan sumpah serapah mampu memuaskan gelora amarah, melunaskan kecewa, dan mengobati luka batinmu yang terkoyak. Tak mengapa. Aku terima.

Aku memang bersalah. Aku begitu saja percaya pada mulut manis Vanya, seorang gadis belia yang terobsesi ketenaran dan pengakuan. Tertipu oleh ambisi produser muda yang menampik etika demi gelimang penghargaan semata. Aku buta.

Mataku baru terbuka setelah tahu semua rekayasa. Aku teramat sedih dan sakit, tatkala namanya tertulis dengan tinta emas sedangkan namamu tak sehuruf pun tersurat di karya itu. Sungguh aku tak menyangka.

Maafkan aku, Jo. Aku tidak tahu harus mengatakan apa selain kata itu.

Barangkali kamu berpikir jika aku menerima uang ratusan juta atas semua tetes peluhmu yang tergadai. Dan ikut berpesta pora merayakan kemenangan yang seharusnya itu milikmu, untukmu.

Tidak, Jo! Tak selembar pun aku mengambil dari Vanya. Uang itu tak bisa membayar hargamu yang telah diinjaknya.

Apakah kamu tahu, kalau di hatiku hanya ada satu namamu? Johan Erlangga. Ya, nama itu tak mau hilang dari lembaran hari-hariku. Mungkin kamu menertawakanku.

Aku mengerti jika semuanya menjadi berbeda. Barangkali kamu sudah lupa dan membuang jauh-jauh namaku dari lembaran hidupmu, untuk selamanya.

Tulisan ini mungkin tak berarti apa-apa, cuma sekadar goresan kata-kata. Tulisan yang bisa jadi hanya tinggal rangkaian huruf, tak bermakna. Tak mengapa. Aku terima.

Aku mengirim tulisan ini, padamu. Karena hanya cara ini yang kutahu. Setidaknya aku pernah mencoba, memperjuangkan rasa terpendam yang kian hari membuatku semakin tersiksa. Entah hasilnya akan sia-sia atau tidak, aku tak peduli.

Percayakah jika sejak lama ingin kukatakan bahwa aku mencintaimu? Bahkan aku bermimpi menikah denganmu. Jangan bertanya mengapa karena aku tidak punya jawabannya.

Aku tak mau menyesal seumur hidup sebelum mengatakannya kepadamu, Jo. Setelah ini, akan  kuterima takdir dengan ikhlas untuk menjalani sisa hidupku. Entah bersamamu atau bukan.

Salam, Tessa.

***

Tessa menutup laptopnya perlahan. Hatinya sedikit lega setelah email untuk Jo terkirim. Ditatapnya rimbunan bunga di depan jendela kamar dengan senyuman.

Pada angin gadis itu berbisik,”Jo, kapan kamu memaafkanku?” Kedua pipinya dia biarkan basah oleh air mata.

Bandung, 24 Januari 2019

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment