S K A K M A T

 
Titik Jeha

Sayup-sayup teriakan kondektur bus jurusan Jogja-Magelang itu membuatku terjaga.

“Jombor … Jombor!”

Aku terhenyak dan spontan berdiri berteriak, “Jombor kiri!”

Waduh, harusnya kan turun di Patangpuluhan, ini sudah terlewat jauh, batinku mengeluh.

Jam di ponsel menunjukkan pukul lima sore. Aku ingat betul belum salat Asar karena tadi ketiduran, padahal sebentar lagi Magrib tiba. Artinya harus mampir ke tempat indekos Mas Dio, tunanganku yang jaraknya lumayan dekat. Hanya sekitar lima puluh meter di seberang jalan. Semoga saja Mas Dio standby di tempat dan bebas acara. 

“Cari siapa, Dek?” kata salah satu cowok yang sedang nongkrong santai di depan indekos. Ternyata ada yang menangkap basah kehadiranku.

“Eh, anu … mau cari Mas Dio,” jawabku ragu.

Sejenak mereka saling berpandangan, kemudian cowok yang berbaju merah menjelaskan sambil jarinya menunjuk ke suatu tempat.

“Dio ada, kok. Langsung aja ke kamarnya. Tuh, yang di ujung. Ketuk aja,” katanya.

“Oh, iya. Terima kasih,” ucapku tersenyum sambil berjalan menuju arah yang ditunjuknya.

Sesampai di depan kamar itu aku segera mengetuk pintu. Tak ada respon dari dalam. Tapi ada suara musik, lirih hampir tak terdengar. Aku tempelkan telinga ke pintu, dan kusimak baik-baik sumber suara itu. Ya, benar. Aku sangat yakin, suara musik itu asalnya dari dalam.

“Ketuk aja, Dek. Dio tidur kali. Ada kok di dalam. Seharian dia enggak ke mana-mana,” kata seorang cowok entah siapa. Aku mengangguk tersenyum ke arahnya.

Sebelum mengetuk pintu kembali, aku coba mengintip ke dalam kamar lewat sela-sela jendela. Meskipun agak susah, aku bisa melihat seseorang yang memakai kaos hitam bertuliskan Malioboro sedang tiduran. Aku mengenal kaos itu, milik Mas Dio. 

“Assalamualaikum ….” 

Kutarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan, menanti jawaban.

Ayo, Mas, jawablah … , bisikku.

”Waalaikumsalam,” sahut sebuah suara dari dalam kamar, suara Mas Dio.

Segera kusiapkan senyum termanis berbalut rindu untuk menyambutnya membuka pintu. 

“Dek Laras?” suara Mas Dio meninggi, terperanjat.

“Iya, Mas. Maaf, tidak memberi kabar dulu,” ucapku berseloroh sambil tersenyum.

Aneh. Kok Mas Dio seperti tidak suka? Kenapa, ya? Harusnya, kan senang ketemu aku, ini malah sebaliknya. Seolah dia tidak berharap aku datang. 

“Maaf, Mas … aku cuma mau ikut salat Asar saja kok, dah telat nih,” kataku sambil menaruh tas di kursi dekat jendela.

Aku segera berlari menuju kran air yang berada di taman kecil depan kamar Mas Dio untuk berwudu.

Saat kembali dari wudu, Mas Dio tidak terlihat. Mungkin dia sudah masuk kamar duluan atau entah kemana. Segera kubuka pintu.

Jlebbb!!!

Ada seorang gadis duduk di karpet tampak terburu-buru menyisir rambutnya yang hitam ikal sebahu.

“Ohhh!” jeritku, tercekat. Suaraku bagai tersangkut di tenggorokan.

 Gadis itu menatap ke arahku sejenak lalu tersenyum, kikuk. Dia membereskan barang-barang miliknya yang bertebaran di lantai. Mas Dio tampak diam di sudut kamar,  wajahnya tertunduk.

Untuk beberapa saat aku hanya mampu berdiri mematung, linglung. Aku gagal fokus melihat gadis itu di kamar Mas Dio. Siapa dia? Mengapa di sini? Sedang apa mereka? Mungkinkah Mas Dio dan gadis itu … ? Lalu, apa arti pertunanganku … ?

Berbagai pikiran negatif berseliweran di kepala. Aku mendadak merasa pusing tujuh keliling. Untung saja aku masih memegang pintu kamar, jadi bisa menopang tubuhku yang tiba-tiba terasa melayang, lemas tak berdaya.  

Ya, Allah … kuatkan aku, batinku.

“Eh, Mbak … maaf. Saya mengganggu, ya. Saya cuma mau numpang salat Asar sebentar kok. Tadi naik bus kebablasan. Maaf, ya, Mbak, Mas Dio,” ucapku datar seolah tidak terjadi apa-apa.

Dalam hati aku terkejut bisa mengucapkan sederet kalimat ajaib itu. Kok bisa? Entahlah. Yang pasti aku tidak mau terlihat bodoh di depan mereka. Jadi harus kuabaikan sayatan demi sayatan yang mengiris di dada.

Selesai salat aku sempatkan kirim pesan lewat Whatsapp untuk dijemput Mas Adam, kakak sepupuku yang baru seminggu menjadi warga kota ini.

[Maaas, helep aku. Plis. Pertemuan besok batal. Nggak kenal juga nggak haram, ok. Terjadi pengkhianatan tingkat dewa. Skrg jemput aku, nggak pake lama. Ceritanya nanti]

Sepuluh menit berlalu, tampak dari kejauhan seorang cowok keluar dari mobil Honda Jazz hitam di seberang indekos Mas Dio. Alhamdulillah, jemputan sudah datang. Aku segera melambaikan tangan. Mas Adam tersenyum, berlari kecil menghampiri.

Kulirik Mas Dio sejenak. Terbaca di wajahnya sirat ketidaksukaan pada Mas Adam yang tersenyum padaku penuh arti. Mukanya memerah, jemarinya mengepal, dan dadanya turun naik menahan gejolak emosi. Aku tak peduli dan ingin Mas Dio merasakan sakitnya harga diri yang terbantai.

Tanpa menoleh, segera aku tinggalkan mereka sambil menggandeng manja tangan Mas Adam.

 

Bandung, 04 Januari 2019

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment