Mewaspadai 5 Perilaku Orang Tua dalam Mengasuh agar Anak Tidak Stres

Hai, Smart Ladies!

Stres dapat melanda siapa saja tanpa batasan usia, tidak terkecuali anak-anak. Sosok orang tua seharusnya menjadi pengayom dan pelindung yang memberikan kehangatan kasih sayang penuh kepada anak. Bila anak stres, hubungan antara anak dan orang tua menjadi buruk.

Dalam mengasuh anak orang tua seringkali masih menerapkan pola asuh pada saat mereka masih anak-anak. Banyak hal yang telah berubah sesuai perubahan zaman. Oleh karena itu, orang tua perlu belajar untuk beradaptasi. Beberapa hal yang pantang dilakukan orang tua dalam pengasuhan adalah sebagai berikut:

 

1.Tindakan Selalu Melarang


Pada dasarnya anak-anak mempunyai keingintahuan yang besar sehingga mereka suka mengeksplor segala sesuatu yang belum diketahui. Karena orang tua selalu ingin melindungi anak- anaknya, mereka melarang mereka dengan kalimat: ” Jangan memanjat tangga nanti jatuh”, ” Jangan hujan-hujanan, nanti sakit”. Karena terlalu sering dilarang anak cenderung jengkel sehingga ia akan mengalami stres. Orang tua dapat mengubah kalimat tersebut, misalnya “Jika ingin naik tangga, ayah pegang tangganya”, ” Jika ingin main hujan, Bunda temani”. Kalimat-kalimat halus tersebut dapat diterima anak dengan senang hati. Secara langsung orang tua membangun bonding dengan anak.


2. Melarang Anak Menangis


Wajar jika buah hati  menangis sebagai respon adanya sesuatu yang terjadi pada dirinya. Namun yang terjadi, orang tua membedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Bila anak perempuan menangis mereka diam saja, tetapi bila yang menangis anak laki-laki mereka buru-buru menenangkan dengan mengatakan, “Anak laki harus kuat, jangan cengeng”. Sepertinya tidak ada yang salah dengan kalimat itu, tetapi dampaknya tak pernah disangka. Anak merekam dan memendamnya dalam pikiran bawah sadar bahwa ia dilarang menangis. Padahal, menangis adalah ekspresi terdalam dari hatinya yang perlu dikeluarkan. Jadi, biarkan anak laki-laki menangis, agar ia tidak terbebani secara emosional.

 


3. Membedakan Anak


Anak-anak dilahirkan bukan atas pilihan mereka. Jadi, tiap anak memiliki temperamen, perilaku, sifat, bakat, juga perangai yang sangat berbeda. Tiap anak diciptakan secara unik. Oleh karena itu, jangan pernah melakukan pembedaan, seperti “Kamu tidak serajin kakakmu”. Kalimat ini akan menimbulkan luka batin. Sebaliknya, Ladies mencoba mencermati bakat anak yang menonjol dan menolongnya  berkembang untuk menumbuhkan rasa bahwa ia berharga.


4. Melabel anak


Melabel anak sangat berbahaya karena membuat anak tidak percaya diri dan divonis seperti julukan itu. Mencap anak sebagai pemalas, gembrot, atau lemot akan menorehkan luka batin yang dalam dan menyebabkan stres yang akan berpengaruh pada prestasi belajar serta perilakunya di kemudian hari.

 

5.Orang Tua Tidak Konsisten

Kedua orang tua sebaiknya membuat kesepakatan cara mendidik dan mengasuh anak. Selain itu, orang tua harus konsisten terhadap ucapan atau tindakan tertentu, misalnya anak bersalah, ia akan menerima hukuman. Lain waktu jika ia berbuat lagi, ia harus menerima konsekuensi juga. Jika orang tua tidak konsisten anak tidak hanya bingung, tetapi juga menjadikannya kurang respek terhadap mereka.


Memang tidak mudah bagi orang tua mendampingi anak-anak bertumbuh hingga dewasa. Namun, jika Ladies berusaha maksimal dan konsisten, pasti akan berhasil. Cinta kasih orang tua yang tegas akan membantu tumbuh kembang anak secara optimal. Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, jika orang tua mengganggap anak sangat berharga, tentu saja mereka mampu mengasuh dan memperjuangkan segalanya bagi keberhasilan buah hati.  

 

 

Related posts

Leave a Comment