Sahabat

Hujan turun membasahi gundukan tanah merah yang dipenuhi taburan bunga. Alya sendirian terpekur di hadapannya, membisu kehilangan kata-kata. Hatinya sedih bukan kepalang kehilangan sahabat yang sangat dicintainya  seperti anggota keluarga sendiri.

 

‘Mengapa secepat ini engkau pergi meninggalkan diriku, Angel?’ batin Alya.

‘Aku masih belum puas bermain denganmu,’ gumam hatinya lagi.

‘Padahal aku begitu menikmati hari-hari bersamamu.’

Hujan masih terus mengguyur bumi seolah ikut merasakan kepiluan hati Alya.

 

Terbayang kembali saat pertama Alya bertemu dengan Angel. Badan yang kumal, penuh debu,  dan berbau tak sedap, membuat orang enggan untuk berada di dekatnya. Bahkan, saat itu Alya pun tidak menampik kalau ada perasaan malas meski hanya sekedar menyapa saat Alfi mempertemukan keduanya.

 

Namun, setelah Angel mandi dengan sabun yang diberikan bunda, dan didandani dengan rapi, ternyata dia cantik dan lucu. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat Alya tertawa, dan sejak saat itu dia menjadi teman kesayangan Alya.

 

Tak jarang berdua saja, mereka berjalan-jalan sore keliling komplek.

Sesekali Alfi dan Kitty menyertai mereka. Atau hanya duduk-duduk di bangku taman. Bagi Alya, Angel adalah soulmate.

 

Alya masih berada di sekolah saat mendengar kabar duka tersebut.

“Al, kamu jangan kaget, ya,” ucap bunda di ujung telepon.

“Ada apa, Bun?” tanya Alya cemas. Mendadak hatinya tak keruan.

 

“Anu … itu … ,” kata Bunda ragu-ragu ingin menyampaikan hal yang dia tahu pasti menyedihkan buat putrinya itu.

“Anu apa sih, Bun?” gadis itu mulai tak sabar mendengar bundanya bicara tak berketentuan seperti itu.

 

“Angel, Al …,” suara Bunda makin melemah.

“Angel ditabrak mobil tadi siang, barusan bunda membantu penguburannya,” terang Bunda hati-hati.

“Apa? Angel ditabrak mobil?” 

 

Tanpa babibu lagi Alya segera merapikan tas sekolahnya lalu langsung menghambur ke luar kelas, mencegat taxi yang lewat di depan sekolahnya lalu langsung menuju arah pulang. 

Hatinya gundah gulana. Sepanjang perjalanan air mata mengaliri pipinya.

Dan, di sinilah dia kini, di depan pusara Angel.

 

Tiada lagi yang akan menemani dia jalan-jalan di sore hari. Tiada lagi teman bercanda yang lucu dan menggemaskan.

“Sudahlah, Al!” tiba-tiba Bunda sudah berada di belakangnya, mengusap punggungnya lembut berusaha menghibur.

 

“Jangan sedih lagi, nanti kamu bisa minta pada ayah untuk membelikan kucing yang mirip sama Angel, kalau perlu kucing Anggora  yang punya bulu yang cantik.”

Alya menggangguk lemah lalu keduanya beranjak menuju ke dalam rumah.

 

Tangerang,10 januari 2019

 

Follow me
Nusifera Sundari
Follow me

Latest posts by Nusifera (see all)

Related posts

Leave a Comment