Gebetan

Sesi kuliah terakhir hari ini sudah sedari tadi usai. Namun Mira belum juga beranjak dari tempat duduknya.

Di sebelahnya, Risa, gadis manis berambut panjang dan bertahi lalat di dagu, masih setia menemani sambil sesekali mengajak ngobrol Mira.

“Ra, makin hari si Radit makin ganteng aja, ya!” celoteh Risa pada Mira.

“Hmm … iya kali,” sahut Mira acuh, sambil tetap asyik menyalin catatan punya Risa. Kemarin dia ketinggalan mencatat karena harus ikut rapat persiapan acara kampus.

Setelah selesai dia langsung mengembalikan buku tersebut lalu bangkit dari duduk, meregangkan otot-otot tangan, dan kakinya yang kaku.

“Ke kantin, yuk!” ajak Mira pada Risa.

“Traktir, yaa?” pinta sahabatnya itu.

“Bereesss, mau makan apa? Tinggal pilih!”

“Asyiiikkk.” Risa melonjak kegirangan. Tak lama keduanya tampak berjalan beriringan menuju kantin kampus.

“Ra, kamu tahu Erna, kan?” Risa menyambung obrolan mereka sambil menyantap mi ayam.

“Erna yang ‘Ratu Kampus’ itu?”

“Iyaa,” sahut Risa

“Tahu, memangnya kenapa?”

“Huh … dia keganjenan, masak sok cari-cari perhatian gitu sama Radit,” ujar Risa.

“Lo, dia yang cari perhatian kenapa kamu yang ribut, Ris?”

“Ish … aku enggak rela Radit jadian sama dia! Enggak pantes, bisa tambah besar kepala dia!” Risa bersungut-sungut sementara mulutnya penuh dengan makanan.

“Woi, kalau mulut penuh tuh, jangan banyak ngomong. Nanti ‘keselek’ baru tahu rasa!”

Belum habis Mira bicara, Risa sudah tersedak makanan sampai batuk-batuk.

“Tuh, kan … baru saja dibilangin sudah kejadian, deh!” ujar Mira sambil menyodorkan minuman kepada temannya itu.

“Kamu sih, Ra, doain aku ‘keselek’,” sahut Risa.

“Yee … siapa juga yang kayak gitu! Salahmu sendiri, mulut penuh, nyeroscos melulu, ngomongin orang lagi!” Mira tidak terima disalahkan.

“Iya deh, iyaa … aku yang salah,” kata Risa akhirnya.

By the way, kamu enggak naksir Radit, Ra?” tanyanya pada Mira.

“Memangnya harus, gitu?”

“Yaa … secara, dia itu kan ganteng, ketua senat, pinter pula, enggak kepingin punya ‘gebetan’ kayak begitu?” Risa masih mencecar Mira penasaran.

“Kalaupun naksir, enggak perlu bikin pengumuman kan, Ris?”

“Aku cuma penasaran, gadis-gadis seantero kampus mengidolakan dia, eh kamu adem ayem aja!” ujar Risa sambil menatap Mira penuh selidik. Sementara yang ditatap hanya tersenyum tipis.

Tiba-tiba Mira memegang perutnya dengan kencang, mukanya meringis kesakitan. “Argh … aduuh … sa-sakit se-sekali ….” Sahabatnya terkejut melihat kondisi Mira.

“Mira! Kamu kenapa?” teriak Risa panik. Mira tidak menjawab, dari mulutnya hanya terdengar gumam tak jelas karena dia menahan rasa sakit yang amat sangat di perutnya.

Teriakan Risa menarik perhatian seisi kantin. Mereka mendekati kedua gadis itu. Muka Mira pucat pasi, keringat dingin mengalir membasahi jilbab yang dipakainya. Belum sempat Risa menanyakan keadaannya, Mira pun jatuh pingsan.

Risa berusaha menangkap tubuh Mira agar tidak sampai jatuh ke lantai, tetapi kalah cepat dengan lengan sigap milik Radit, yang entah sejak kapan dia sudah berada di situ.

“Biar saya bawa ke klinik,” ujar Radit sambil membopong Mira, lalu bersegera membawanya ke klinik, diikuti oleh Risa.

Dr. Amanda memeriksa Mira dengan seksama, “Mira harus secepatnya dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap karena dia harus segera menjalani operasi usus buntu,” ucap dokter cantik itu pada kedua kawan pasien.

“Ya Allah …,” tak sadar Risa berseru.

Dengan menggunakan ambulance klinik, Mira dilarikan ke rumah sakit terdekat yang lebih lengkap dan canggih peralatannya. Radit dan Risa mendampingi sampai tiba di rumah sakit. Mereka memperhatikan dengan cemas bagaimana dokter dan perawat IGD dengan sigap segera menangani Mira.

“Mana keluarga pasien Mira?” seru dokter IGD.

“Saya!” Risa dan Radit berseru bersamaan, keduanya segera menghampiri dokter itu.

“Saya temannya, Dok!” ujar Risa setelah berada di depan dokter.

“Saya perlu tanda tangan keluarganya, sebagai syarat izin operasi!” sahut dokter.

“Saya yang akan menandatanganinya, Dok,” ujar Radit, membuat Risa menoleh ke arahnya.

“Anda siapanya pasien?” Tanya dokter.

“Saya, suaminya!” Sambung Radit. Ucapan terakhir Radit sukses membuat Risa tercengang.

Tangerang, 6 Januari 2019

Nusifera Sundari
Follow me
Nusifera Sundari
Follow me

Latest posts by Nusifera (see all)

Related posts

Leave a Comment