Warung

Warung
Oleh: Silvia Destriani

     Pulang kantor tadi sore aku lupa mampir untuk membeli popok instan gadis kecilku. Terpaksalah selepas magrib ini aku harus melajukan si matic roda dua ke sebuah warung modern di ujung jalan.

     Sebenarnya lelah menerpa dan ingin segera beristirahat di alam mimpi, tapi kasihan si kecil bisa kena ruam popok jika tidak diganti sebelum tidur.

     “Yah, jangan lupa ya belikan popok buat dedek, tinggal satu pas buat selesai mandi sore,” ujar istriku lewat telepon. Pesan itu kembali terngiang di telingaku saat aku bersiap pulang dan tengah berada di gedung parkir.

     Ah, tanggal tua lagi, batinku berteriak saat kubuka dompet yang menghuninya hanyalah selembar seratus ribuan dan selembar lima puluh ribuan. Cukuplah buat membeli satu pak popok extra soft yang berisi tiga puluh empat lembar, dan sisanya buat isi bensin besok pagi.

     Suasana warung modern 24 jam ini memang selalu ramai, tak peduli malam hari pun. Kulihat beberapa pengunjung sedang antre di depan kasir. 

     Seorang ibu berpakaian sederhana dengan gamis dan jilbab lusuh sebagai pengantre paling belakang, terlihat repot sekali dengan bocah di gendongannya dan satu lagi di gandengan. Kedua bocah itu terlihat merengek ingin segera memakan es krim yang akan dibayar oleh ibunya.

     Segera kulangkahkan kaki menuju meja kasir setelah mengambil belanjaan yang kubutuhkan. Sekarang posisiku berada tepat di belakang ibu-ibu tadi. Ada satu orang lagi di depannya.

     “Bu, ayo, Bu! Kakak mau es krim!” rengek bocah yang menggandeng di sebelah kirinya, sementara si adik dalam gendongan menangis sepertinya minta disusui oleh sang ibu.

     “Sabar, Nak. Nih giliran ibu yang bayar. Sebentar ya.” Kulihat ibu itu membolak-balik isi dompetnya, seperti mencari-cari sesuatu. 

     “Totalnya Rp 52.000 ya, Bu,” ucap si mbak penjaga kasir.

     “Eh, iya, sebentar, Mbak. Tadi kayaknya di sini lima puluh ribuannya. Kok enggak ada ya. Aduh ….” Si ibu semakin repot membolak balik isi dompetnya dan juga tas kecil yang terselempang di bahunya. Sementara bocah-bocah kecilnya makin tak bisa diajak kompromi.

     Antrean di belakangku semakin panjang. Mbak penjaga kasir pun terlihat sedikit kesal melihat si ibu yang terus-terusan mencari sesuatu di dalam dompetnya.

     “Mbak, maaf, saya cancel saja ya belanjaannya. Saya yakin di dompet saya tadi ada uang Rp 55.000, tapi kok ini tinggal Rp 5.000,” ucap si ibu tak enak hati.

     Melihat kejadian itu, nuraniku seakan tergerak. Aku harus melakukan sesuatu. 

     “Bu, ini yang jatuh mungkin uang ibu,” ucapku pada ibu itu sambil menunjuk ke arah selembar lima puluh ribu yang tergeletak di atas lantai, tepat di sebelah kanan kakinya.

     “Alhamdulillah, terima kasih ya, Pak.” Dengan berbinar-binar si ibu mengambil selembar uang berwarna biru itu, lalu menyerahkannya kepada kasir.

     Kulihat dari kejauhan, dua orang anaknya begitu gembira menikmati es krim dengan wajah belepotan. Lega rasanya hatiku menyedekahkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Selembar lima puluh ribu yang sengaja kujatuhkan tadi tak begitu berarti dibanding harga diri seorang ibu.

Jogja, 10 Januari 2019

Silvia Destriani

Latest posts by Silvia Destriani (see all)

Related posts

Leave a Comment