Cinta di Ujung Maut

Musim dingin telah bergelayut manja, tetesan air hujan menemani dalam keseharian aktivitas. Meski matahari tak bersinar terang, kadang pagi masih memberikan senyum hangat. Sehangat senyum Resti ketika menjemur pakaian di halaman belakang. Jari jemari lincah menjemur setiap baju milik Ardi. Tak terlihat rasa lelah dalam raut wajahnya, yang ada hanya senyum indah merekah.

Ardi tak pernah mempermasalahkan ketika  Resti tak memasak makanan untuknya. Mereka bisa delivery order, atau pergi keluar untuk makan. Resti bisa melakukan apa pun yang disukainya. Bagi Ardi membahagiakan dan mencukupi semua kebutuhan Resti adalah tugasnya. Tak jarang ketika Resti meminta tas baru dengan mudah pasti akan mendapatkannya. Begitulah cara Ardi menjalankan kewajiban sebagai suami.

***

Pernikahan Resti dan Ardi memasuki enam tahun, dimana mereka telah dikaruniai seorang anak, Yasmin. Setiap hari Resti sibuk mengurus putri kecilnya. Tingkah laku bocah lucu ini membuat Resti tak bisa memikirkan hal lain. Prahara rumah tangga seolah tak pernah menghampiri mereka, perjalanan bak jalan tol bebas hambatan. Resti dan Ardi tak pernah mencecoki segala urusan masing-masing, di rumah pun bercengkerama menjadi hal yang jarang dilakukan. Ardi dengan segudang aktivitas kantor, dan Resti sibuk mengurus anak semata wayang mereka.

Gawai Resti berdering menandakan ada pesan masuk.

[Mba Resti, mohon datang  ke Rumah Sakit Ultra Medika di jalan Porong, Pak Ardi dirawat di IGD.]

Tanpa membalas pesan Resti bergegas menuju rumah sakit bersama Yasmin. Sesampai di sana terlihat laki-laki yang menikahinya terbaring tak berdaya di atas kasur. Setiap hari Resti merawat dengan penuh perhatian dari makanan, pakaian, dan kebersihan tubuh tak luput dari pantauannya. 

Tiba-tiba pintu diketuk terlihat seorang wanita memasuki ruang rawat Ardi, dengan senang Resti menyambut kedatangan seorang wanita yang memang tak dikenal olehnya. Belakangan Resti tahu bahwa wanita itu bernama Marisa, teman SMA Ardi. Mereka tak sengaja bertemu dalam pertemuan bisnis lima bulan yang lalu. Selain Marisa, banyak teman dan rekan kerja Ardi mengunjungi di rumah sakit.

Tanggal 3 September 2016, Resti masih menemani Ardi yang kondisinya belum memperlihatkan hasil yang baik. Sudah sepekan Resti menemani Ardi di rumah sakit. Pagi ini terasa berbeda ketika Ardi tak kunjung memakan makanan yang disuguhkan. Berkali-kali dirayu, tetapi tak membuahkan hasil. Dilain pihak, Marisa pun  datang berkunjung. Hal yang biasa dilakukannya  di kala waktu senggang.Terkadang  dia membantu Resti menjaga Yasmin.

Resti seolah menyerah untuk mencoba membuat Ardi memakan makanannya. Melihat hal itu Marisa memberi isyarat untuk menyerahkan makanan yang berada di piring kepadanya. Tak disangka Ardi menyantap semua makanan yang berada di piring tanpa sisa.

Resti terdiam membisu melihat apa yang dilihat oleh kedua matanya. Ardi memakan makanan tanpa sisa dari Marisa, bukan dari kedua tangannya. Tanpa terasa bulir-bulir kristal menggenang di pelupuk mata. Rasa marah bergemuruh tapi hendak marah pada siapa? Haruskah pada Marisa yang tak sedikit pun bisa dibenci olehnya?.

Pandangan mata Ardi kepada Marisa tak seperti saat lelaki itu memandang Resti, apakah itu cinta?. Pertanyaan kian bergelayut membuat kepala kian pecah. Ini tak sesakit ketika Resti melahirkan Yasmin. Tak sesakit ketika Ardi tak bicara dengannya, tak menyapa, dan sibuk dengan pekerjaan. Ini amat menusuk jantung dan hati mencabik-cabik seperti singa mencabik  mangsanya.

***

Yasmin dan Marisa duduk di dekat pusara, perlahan Yasmin menyerahkan kotak yang berisi beberapa surat.

“Tante Marisa, ini ada banyak surat, tapi aku tak tahu untuk siapa.”

Diraihnya kotak surat yang diberikan Yasmin. Dibacanya setiap lembar surat satu persatu. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Marisa.

“Tante, apakah tante tahu? Kemarin bunda menjemputku.  Dia tersenyum bahagia saat melambaikan tangannya padaku. Namun, saat Bunda menyeberang jalan, mobil berwarna hitam menabrak bunda,” ungkap Yasmin.

Tak kuasa menahan air mata, Marisa memeluk Yasmin dan menyerahkan surat yang ditulis Resti selama lima bulan untuk Ardi. Resti menuliskan tentang masa-masa bahagianya bersama Ardi. Mulai dari pertemuan pertama hingga menikah. Namun, hati Resti hancur ketika tak sengaja membaca email suaminya untuk Marisa. Ia mengetahui bahwa harta dan raga Ardi memang menjadi miliknya, tapi hati lelaki yang sangat ia cintai adalah milik Marisa. 

Ardi mendekap nisan Resti dengan erat, menumpahkan segala perasaan yang dimilikinya.

Sebenarnya, Marisa ingin mencetak email Ardi yang terakhir. Namun, orang yang seharusnya menerima itu telah pergi jauh.

[Hey Marisa, apakah kau tahu bahwa sudah lima bulan ini Resti berubah menjadi wanita yang berbeda? Ia menjadi rajin ibadah, rajin membereskan rumah, dan melayaniku dengan baik. Kemarin dia pulang basah kuyup, aku sangat kawatir. Aku mendekapnya erat dan dia membalasnya. Sekarang aku tahu, bahwa aku mencintainya. Terima kasih Marisa kau selalu mengingatkanku untuk baik kepada istriku. Kini aku akan selalu mendekap, memeluk, dan memberikan hati serta ragaku untuknya.]

Gambar : https://pixabay.com/id/matahari-terbenam-senja-691848/

Cinta di Ujung Maut

haruki

Latest posts by haruki (see all)

Related posts

Leave a Comment