Es Krim Fitri

Fitri menatap selebaran kedai es krim yang baru buka di ujung jalan dengan pandangan berbinar. Pandangannya berkeliling, mencari seseorang. Begitu menemukan sosok yang dicari, Fitri segera berlari menghampirinya.

“Mak, beliin es krim ini, ya!” Fitri menarik baju lusuh Emak yang sedang mengais isi tong sampah di depan sebuah rumah besar.

Emak melihat selebaran yang dibawa Fitri dengan tatapan yang sulit diartikan. Untuk makan sehari-hari saja mereka susah, apalagi untuk membeli es krim. Jangankan es krim seperti di selebaran itu, yang seharga tiga ribu perak saja mungkin tidak terbeli.

***

“Kok kayak susah, ada apa to, Yu?” tanya Kang Tanto, penjual es putar keliling tetangga kontrakan Emak.

“Fitri, Kang. Minta es krim seperti ini.” Emak menyerahkan selebaran yang tadi didapat Fitri.

Kang Tanto menerima selebaran itu, mengamati lama, lalu tersenyum.

“Gampang, nanti aku buatkan,” kata Kang Tanto.

Tenan, Kang?” Mata Emak berbinar.

Tenan, gampang es gini aja, kok. Nanti malam, yo. Setelah aku pulang keliling, kita pesta es krim!” kata-kata Kang Tanto membuat mata Emak makin berbinar, seperti binar di mata Fitri.

Seperti janjinya, malam itu Kang Tanto membuatkan banana split, es krim yang ditunjuk Fitri di selebaran. Semua berkumpul. Emak, Fitri, Danu, kakak Fitri, dan Bayu, anak lelaki Kang Tanto satu-satunya.

Fitri tak henti memandang es krim di depannya dengan tatapan takjub.

Nduk, kok cuma dilihat aja? Ayo, dimakan,” tegur Emak.

“Sayang, Mak. Bagus, persis di gambar. Fitri seneng, Mak. Coba Kang Tanto jadi ayah Fitri, bisa tiap hari makan es krim kayak gini, ya Mak?”

Emak terbelalak mendengar kata-kata Fitri. Mukanya merah padam, antara malu dan marah.

“Kang Tanto bisa bikin es krim tiap hari, bisa jadi ayahnya Fitri, kalo Emak mau,” kata Kang Tanto, membuat Emak makin menunduk malu.

“Mau, ya Mak? Ya?”

Ratna Hadi

Latest posts by Ratna Hadi (see all)

Related posts

Leave a Comment