Cinta Kartika

Titik Jeha Kali ini Kartika sengaja tidak ikut menengok mertuanya. Firman telah mengizinkannya. Ia ingin bermalam di rumah Santi. Kata Santi, suaminya sedang pergi keluar kota. Sudah sangat lama kedua perempuan cantik yang bersahabat sejak SMA itu tidak bertemu. Maklum, mereka sama-sama telah berumah tangga. Lagi pula, Santi baru setahun pindah ke Jakarta, setelah sekian lama tinggal di Bali. *** Santi memeluk Kartika. Ditatapnya kedua mata perempuan paruh baya yang duduk di depannya itu seakan tak percaya. “Kamu waras, kan, Tik? Atau jangan-jangan sedang konslet,” seloroh Santi menggelengkan kepala. “Aku…

Opera Sandal Jepit

Titik Jeha Pagi ini, aku merasa agak panik. Sepasang sandal jepit kesayangan Mas Ari telah hilang entah ke mana. Aku sudah mencarinya di setiap sudut rumah, namun tidak ketemu juga.. Seingatku, ia memakai sandal jepit itu saat pergi ronda tadi malam. “Mas, sandal jepitnya enggak ada, loh,” teriakku dari dalam kamar, sedikit khawatir.   “Biarin aja, Sayang. Kan bisa beli lagi yang baru,” sahut Mas Ari enteng sambil menonton berita di televisi. Ajaib. Bagaimana mungkin ia merelakan sandal jepitnya hilang begitu saja? Tapi, ya sudahlah. Aku bersyukur atas perubahan sikap…

Pariyem

Titik Jeha Sudah seminggu gadis lincah berparas manis itu, protes ingin berganti nama. Ia tidak suka dan benci dengan nama ‘Pariyem’. Menurutnya, nama Pariyem itu jelek dan kampungan. “Nenek, aku tidak mau nama Pariyem! Aku mau ganti nama Farida!” teriak gadis yatim piatu itu sepulang sekolah. Neneknya merasa heran dengan perubahan Pariyem. Sebelumnya gadis itu tidak pernah mempermasalahkan nama. Teman-temannya juga tidak. Tetapi, sejak kehadiran murid baru dari kota yang bernama Friska, semua berubah. Mereka menjulukinya Parud, Pariyem Udik. Hari ini merupakan puncak protes Pariyem. Ia tidak mau masuk sekolah.…

Di Persimpangan

Titik Jeha “Dik, sini sebentar!” teriak Mbak Dewi dari ruang tamu. Cepat-cepat aku keluar kamar. Aku kira apa, ternyata mau dikenalkan dengan beberapa temannya. “Wi, beneran ini adik Kamu? Kok beda, ya, lebih cantik. Bagaimana kalau buat aku aja?” canda cowok tengil yang bernama Revan, menggoda. Semua tertawa menanggapi candaan Revan, kecuali Mbak Dewi. Mukanya memerah, nyengir. Sepertinya dia kurang suka. “Kamu ini, Van. Lihat tuh, adikku jadi malu, kan. Udah, ah. Mau minum apa, nih?” tukas Mbak Dewi menawarkan minum, mengalihkan pembicaraan.  “Aku minum adik Kamu aja, Wi. Enggak…

Jerat Asmara

Titik Jeha Wajah Gina tampak murung dan gelisah. Perempuan itu sedari tadi mondar-mandir di kamar yang berukuran empat meter kali empat meter dengan kedua tangan bersedekap di dada. Berulang kali matanya menatap ponsel yang dibiarkan tergeletak di kasur. Dia seperti sedang menunggu seseorang menghubungi. Sejak pagi Gina telah menelepon Hadi, kekasihnya. Gina tak kuat menahan rindu. Dia ingin segera bersama, bercanda, dan berkasih mesra.  Hadi berjanji akan datang jam sembilan. Tetapi, hingga sekarang lelaki itu belum juga datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Waktu terasa berjalan…

Duka di Hati Laras

Titik Jeha [Lang, jemput aku jam 7. Kita harus ketemu.] [Oke, Sayang. Tunggu aku, ya!] Tepat jam tujuh, Galang sudah datang menjemput. Mereka segera pergi setelah minta izin kepada ayah Laras. “Laras, katakan ada masalah apa. Mudah-mudahan aku bisa membantumu. Lihatlah, wajah cantikmu jadi tampak kuyu,” ucap Galang membelai Laras dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba Laras memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat. Badannya menggigil, gemetar, keringat dingin mengucur deras. Mukanya memucat. Tangis yang ia tahan sedari tadi, pecah. Galang kaget dan bingung. Pemuda itu tidak menyangka kalau Laras akan menangis.…

Tragedi Potong Rambut

Etika Amatusholiha Siang itu Qudink menghampiri emaknya yang sedang  berada di dapur. “Mih, rambut Qudink, kok keriting amat, ya? Padahal rambut Mamih kagak.” “Hmm … ,” Emak menjawab singkat sambil mengulek sambel. “Turunan dari mana, Mih?” tanya Qudink penasaran. “Babeh elu, lah. Masa iya tetangga, Dink!” Qudink berjalan ke ruang tamu dan mengambil salah satu foto hitam putih yang terpajang di dinding lalu menghampiri emaknya lagi di dapur. “Mih, ini foto papih, ya?” tunjuk Qudink pada sebuah wajah yang ada di foto itu kepada emaknya. Emak melihat sepintas lalu melanjutkan…

D I L E M A

Titik Jeha Minah menyeka peluh yang mulai menetes. Senyum kecil yang manis tersungging di sudut bibir. Kelegaan terpancar dari sorot matanya yang berbinar.  Beberapa pekerjaan rumah sudah terselesaikan. Dia sudah memasak, menyiapkan makan, dan mencuci perkakas yang kotor. Tak lupa bersih-bersih rumah, mencuci baju, menyetrika, serta menatanya. Pekerjaan yang menantinya adalah intruksi Amir, suaminya. Ibarat peluru yang ditembakkan dari senapan, Minah harus siap siaga melayani Amir hingga menjelang tidur malam. Minah sadar, rutinitas harian itu tidak bisa dia tinggalkan, kecuali ditunda sementara. Itu pun dengan konsekuensi pekerjaan menjadi menumpuk bahkan…

L U K A

Titik Jeha Lastri memoleskan lipstik warna merah bata ke bibirnya yang seksi. Warna kesukaan Reno, suaminya. Sekali lagi dipatutnya riasan dan dandanan, sebelum melangkahkan kaki ke meja yang telah dia pesan di kafe ‘Rose’. Meja nomor tujuh yang ada di sudut kafe itu masih kosong. Reno belum datang. Lastri segera duduk dan memesan menu favorit berdua. Sambil menunggu pesanan, ia menulis pesan di Whatsapp kepada suaminya. [Yang, aku dah nyampe. Kamu dmn?] [Sabarlah. Sebentar lg aku jg sampe. Pesan menunya tiga, ya] [Tiga? Ok, deh. Hati2] [Y] Lastri segera meralat…

Kabut di Hati Arini

Titik Jeha Hari-hari tanpa kehadiranmu, waktu seakan lamban berlalu. Ada ruang hampa yang kian hari volumenya semakin membesar. Kosong. Tak ada kehidupan di sana. Asa yang pernah ada, kini hilang entah ke mana. Warung Mang Edi di sudut kampus, salah satu base camp favorit kita, telah kehilangan identitas dan integritasnya. Riwayat kongko dan orasi seni yang paling keren sedunia kampus itu sudah tiada. Tamat. Tempat itu telah dijajah oleh oknum-oknum intelektual yang mengatasnamakan estetika dan menyulapnya menjadi tenda-tenda komersil. Ruang-ruang di perpustakaan menangis meraung-raung memanggilmu, merindu. Bangku tempatmu bermesraan bersama…