Aku Ingin Pulang

Titik Jeha Hasna duduk merenung, memeluk erat kedua lututnya. Matanya menatap langit-langit kamar, menerawang jauh ke hari-hari yang akan dilalui.  Sejak kehadiran Marco, adik ipar Tuan Adam di rumah itu, waktu demi waktu dilewatinya dengan perasaan was-was. Kekhawatiran mulai menjajah pikiran. Hatinya diliputi kegelisahan yang mendalam. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya berulang kali, mencoba memaksa otak untuk menemukan solusi.  Hasna belum beranjak sedikitpun dari tempat duduknya sejak tadi. Padahal hampir dua jam dia bersikap seperti itu. Duduk, diam, dan berselancar bersama angan. Hasna sangat bersyukur, selama seminggu bisa bebas…

Sepenggal Kisah Lani

Titik Jeha Hari ini, seperti biasa aku mampir ke kantin sekolah sebelum akhirnya bertapa di singgasana kelas. Tak sengaja sudut mataku menangkap sesosok bayangan yang amat kukenal. Lani.  Ya, gadis kecil siswa baru yang berhasil mencuri hatiku. Tumben sepagi ini dia sudah datang.  “Hai, Cinta! Assalamualaikum!” seruku menghampirinya dengan semangat. “Waalaikumsalam. Eh, Bu Guru!” sahut Lani memandangku tersenyum. Suara Lani terdengar agak aneh, berbeda dari biasanya. Aku mengernyitkan alis, berpikir. Astaghfirullah! Ada apa dengan gadis itu? Di wajahnya tersirat mendung. “Apa kabar, Sayang? Rajin banget pagi-pagi sudah datang. Sudah sarapan…

Takdir

Titik Jeha Hari sudah beranjak malam. Kuraih tas di meja dan segera menghubungi Mas Angga. Nada sambung dari ponsel begitu jelas di telinga, tetapi tak ada jawaban. Kuulangi lagi menelepon dan menunggu beberapa saat. Tersambung. Tetap saja tidak diangkat. Penasaran mulai menyerbu kepala, riuh. Untuk ke tiga kalinya kucoba mengklik tombol ulangi sambil komat-kamit mengucap basmalah dengan sepenuh hati.  Tuuuut! Tuuuut! Tuuuut …! Dada mulai bergememuruh. Ya, Allah! Tidak direspon juga. Kenapa, ya? Apa yang terjadi? Ada apa dengan Mas Angga? Seingatku, belum pernah dia mengabaikan telepon meskipun sedang meeting.…

Air Mata Ayah

“Mohon maaf, Pak. Putra Bapak tidak diperkenankan untuk kembali ke sekolah ini sebelum melunasi tunggakan uang sekolah,” ujar petugas  tata usaha sekolah kepada ayahku. “Tolong beri kami waktu, Pak. Kami pasti bayar, hanya saja kini kami belum memiliki uang. Kami sedang mengusahakan menjual rumah kami,” Ayahku berusaha agar aku masih diperbolehkan bersekolah di sini. “Silakan diusahakan cari dulu uangnya, mungkin bisa pinjam saudara, teman, atau kemana saja, saya juga jual apa  saja untuk sekolah anak saya,” ujar petugas itu lagi.  Ayahku terdiam kecewa dan pasrah. Usahanya tidak berhasil, dia hanya…

“Surprise”

Titik Jeha Siang ini, Dewi menyetujui ajakanku untuk makan siang di Cibiuk, Rumah Makan Sunda di Jalan Sukarno Hatta. Wow, alangkah senang hatiku, akhirnya mampu merebut hati gadis idaman itu dari Rendi. Cowok sok alim yang jago karate, anak semata wayang Mak Icah tetanggaku. Untuk pertama kalinya aku akan makan siang bareng dengan cewek, berdua saja. Pengalaman yang selama ini kutunggu dan ingin kurasakan. Duh, betapa indahnya.  Kunaiki motor Ninja kesayanganku dengan semangat menuju ke rumah Dewi. Aku mendadak merasa menjadi laki-laki yang paling gagah sedunia. Rupanya Dewi sudah menunggu…

Titipan

Arga baru saja hendak merebahkan diri sepulang dari kantor, saat bel pintu apartemennya berbunyi. Begitu dibuka tampak sahabat lamanya. “Rendy!” serunya gembira sambil meninju pelan lengan lelaki itu. Sementara yang ditinju hanya tersenyum kecil menanggapi sikap Arga. “Ke mana aja selama ini, Bro?” tanya Arga penasaran karena tiga tahun ini hilang kontak. “Ke sana ke mari, nyari bekal buat calon istri,” ujar Rendy. “Weiiss … cakeep.” Arga mengacungkan dua jempol memuji temannya. “Kamu sendiri, masih betah jadi jomlo?” goda Rendy. “Belum ada yang mau nih!” Arga memasang tampang memelas. Rendy…

Kangen

Siang itu ruang perpustakaan sekolah terlihat lengang. Tak banyak siswa yang mengisi waktu dengan duduk membaca di sana. Hanya beberapa orang yang tampak asyik membaca atau mendengar audio melalui headset yang terpasang di telinga.  Aldi menyapu pandangan ke seluruh ruang berharap menemukan sosok yang dicarinya. Senyumnya mengembang saat pandangannya tertumbuk pada seorang gadis manis berjilbab putih yang sedang asyik mencatat sesuatu di bukunya. Aldi berjalan menghampiri kemudian menarik kursi yang ada di hadapan gadis itu dan langsung duduk di situ. Mendengar ada suara di hadapannya, si gadis mendongak. Pandangan keduanya bertemu,…

Menjemput Takdir

Titik Jeha Tini menikmati secangkir kopi susu panas di warung Mak Icah, ditemani gigitan demi gigitan tempe goreng kesukaannya. Pikirannya melayang pada Surti, anak gadisnya yang kini sedang sakit.  Bagaimana keadaan Surti sekarang, ya? batinnya. Semalam, Tini sudah memeriksakan Surti ke Dokter Henri. Hasil diagnosa sementara adalah gejala tifus. Tini harus menunggu beberapa hari untuk mengetahui apa penyakit Surti. Apakah semakin membaik atau malah sebaliknya. “Obatnya diminum, ya, Sur!” pesan Tini. Kalau saja Surti mau tinggal sementara waktu dengannya sampai kondisi badannya pulih dan sehat, mungkin Tini tidak terlalu khawatir. Maklumlah,…

Prahara

Titik Jeha Vita terlihat letih. Dia baru pulang dari menjenguk ibunya di kampung. Aku tidak bisa mengantar Vita karena ada beberapa urusan yang harus selesai. “Istriku, Sayang. Aku rindu sekali,” kataku langsung menariknya ke dalam pelukan.  “Kamu ini, Mas. Baru juga tiga hari enggak ketemu,” ucap Vita seraya mencubit dadaku dengan manja. Aku dan Vita tertawa bersama. Bahagia. *** Sore itu aku mengajak Vita untuk memeriksakan diri ke dokter. Aku sangat khawatir pada kondisi kesehatannya yang beberapa hari ini tampak buruk. Sudah sekitar seminggu dia mengeluh pusing dan mual-mual. Bahkan,…

Impossible

Titik Jeha [Assalamualaikum. Pkbr? Hai, Yun! Ini aku, Bimo. Lupa, ya?] Yuni membaca sebuah pesan yang masuk lewat Whatsapp. Bimo? Keningnya mengernyit sedikit tanda berpikir. Dia mencoba mengingat-ingat nama itu di tumpukan memori masa lalu. Akhirnya dia menemukan sosok Bimo. Cowok tampan paling cool, pelatih dancer terpopuler di Grup Conga. Bimo yang pernah menyatakan cinta, tetapi diingkarinya. [Waalaikumsalam. Eh, Bimo. Maaf, ya, baru bls. Alhamdulillah, kbr baik.] [Ok. Gpp. Hari Minggu besok aku mo ke Bandung. Ketemuan, yuk!] [Hayuk! Di Food Garden Miko Mall Kopo, ya. Habis Zuhur sekitar jam…