Pesan untuk Ananda, Memetik Hikmah dari Sang Penjaga Alquran

Engkau adalah setangkai bunga dari taman keluarga Umar. Sungguh, pundakmu telah mengemban amanah yang begitu mulia. Menjaga Alquran, pedoman umat manusia sepanjang zaman.

Tahukah kamu, Nak? Sebagai wanita yang hidup di akhir zaman, terselip rasa takut dalam diri Bunda akan kehilangan sosok-sosok teladan untuk dijadikan panutan. Ketakutan ini tidak terlepas dari adanya amanah besar yang Allah berikan di atas pundak Bunda, yaitu membesarkan, mendidik, dan menuntunmu agar engkau meraih kesuksesan dunia akhirat.

Di tengah dunia yang begitu fana dan maya ini, hati Bunda dipenuhi kebimbangan. Bunda harus mencari kisah orang-orang baik dan inspiratif yang tidak hanya sukses dalam dunianya, tetapi juga meraih kemuliaan dalam agamanya. Untuk apa? Apalagi jika bukan untuk diperkenalkan kepadamu beberapa waktu lagi, saat kau mulai memahami arti penciptaan, saat kau beranjak mencari jati diri. Bunda tidak ingin kecolongan dan mengambil risiko lebih besar jika engkau kelak lebih mengidolakan artis-artis Youtube dan bercita-cita menjadi youtuber dibanding menjadi seorang penuntut ilmu.

Lalu, kemana Bunda harus mencari? Hati Bunda tersentak, sejenak Bunda merenung. I'm a moslem, right? Bukankah para generasi pendahulu, umat Islam adalah generasi terbaik? Maka sudah sepantasnya para sahabat dan shahabiyah-lah yang muncul sebagai jawaban atas segala keresahan ini. Tiada yang lebih baik dari mereka, yang hidup dan dekat dengan Rasulullah, yang tiap hari disiram dan dipupuk dengan Alquran dan As-sunnah. That's perfect.

Dear, my lovely daughter, mommy has decided. Meski hidup jauh ribuan tahun dari mereka, semoga Bunda berhasil mengenalkan dan membuatmu bercita-cita menjadi seperti mereka, bersama-sama berjuang meraih jannah-Nya.

Perkenalan dengan Hafshah Binti Umar

Tanpa mengurangi rasa kekaguman dan kecintaan Bunda terhadap para shahabiyyah yang lain, nama Hafshah binti Umar adalah salah satu yang paling menyita perhatian Bunda untuk mengenalnya jauh lebih dalam. Katakanlah, beliau adalah perfect goals, segala yang ada pada diri Hafshah adalah sesuatu yang sangat Bunda impikan.

Lahir dan dibesarkan di tengah orang-orang saleh membuat Hafshah diliputi keberkahan. Ayahnya, Umar Bin Khatab, adalah lelaki hebat yang berkat keislamannya, kejayaan Islam menjadi semakin pesat. Ia juga seorang pemimpin yang adil dan penyayang. Ibunya, Zainab binti Mazh’un, adalah saudara perempuan dari seorang sahabat terkemuka, Utsman bin Mazh’un. Pamannya, Zaid bin Khatab, adalah seorang syahid yang telah mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah. Sedangkan saudara laki-lakinya, Abdullah bin Umar, adalah seorang ahli ibadah sekaligus ulama besar yang zuhud dan wara’.

See? Maka, tak heran jika Hafshah tumbuh dan berkembang menjadi seorang wanita yang luar biasa. Memiliki kepribadian kuat, berpendirian, tegas, serta berani, sebagaimana pengakuan Aisyah radhiyallahu ‘anha tentangnya. Menjadi catatan tersendiri bagi kita, bahwa sangat penting untuk mencari pasangan hidup (suami/istri) dari keluarga yang baik, dengan akhlak yang baik pula, karena semua itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dzurriyat kita kelak. Note it!

Hafshah Inspirasiku

Saat mengenal lebih jauh tentang pribadi Hashah, tak henti-hentinya lidah dan hati Bunda bertasbih mengagungkan nama Allah. Semoga limpahan berkah dan karunia yang diberikan oleh-Nya kepada Hafshah, juga menyelimuti kita dan muslimah-muslimah lainnya di seluruh penjuru bumi ini.

Satu hal yang menarik hati Bunda, sejak kecil Hafshah sudah menyukai dunia sastra. Ia giat belajar membaca dan menulis dari Syifa binti Abdullah bin Al Qurasyyiyah Al Adawiyah. Semangat belajarnya yang tinggi membuat ia menjadi salah satu wanita yang paling fasih di antara wanita Quraisy, satu hal yang sangat jarang saat itu. Ini juga penting untuk kau ketahui, Nak, bahwa tidak hanya Ibu Kartini wanita yang cerdas dalam berliterasi. Jauh sebelum itu, Islam sudah memiliki Hafshah.

Meski tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Hafshah, Bunda pun sudah menyukai dunia kepenulisan sejak duduk di bangku sekolah dulu. Ya, seperti kata banyak penulis, menulis adalah salah satu terapi. Itu juga yang berlaku pada diri Bunda, terapi untuk jiwa dan pikiran. Ingat, kapasitas memori otak kita sangat terbatas. Menulis sangat membantu kita untuk memutar ulang kejadian-kejadian masa lampau yang mungkin apabila tidak dituliskan, tidak pernah kita buka lagi memori itu.

Menulis juga salah satu cara untuk mengikat ilmu. Ingat bukan, bahkan di zaman Rasulullah dulu, para sahabat pun sudah menuliskan ayat-ayat Alquran di pelepah kurma, meskipun mereka memiliki hafalan yang sangat kuat?

Lalu bagaimana dengan Hafshah? Apa manfaat membaca dan menulis bagi seorang wanita yang hidup di zaman Rasulullah itu? Bahkan di zaman itu, mungkin belum terpikirkan bahwa dengan menulis, kita dapat menghasilkan uang, seperti saat sekarang ini.

Ternyata, Nak, Hafshah mendapat amanah yang sangat mulia. Saat banyak para penghafal Alquran yang gugur sebagai syuhada, timbul kekhawatiran akan tercecernya lembaran-lembaran Alquran yang telah dibuat. Akhirnya, Abu Bakar memilih Hafshah untuk menjaga lembaran-lembaran Alquran yang telah ia kumpulkan.

Mengapa Hafshah yang dipilih? Karena ia memiliki paket yang komplit, berilmu, bertaqwa, dapat membaca dan menulis, serta ahli ibadah. Hingga tiba masa Khalifah Usman, lembaran-lembaran Alquran itu tetap tersimpan rapi di rumahnya.

Tidak salah lagi, Nak, Allah telah memilihnya, itu bukan suatu kebetulan. Allah telah memilihnya untuk menjadi penjaga Alquran melalui perantara Abu Bakar. Kau pun harus berjanji pada Bunda untuk selalu menjaga Alquran saat kelak kau menjadi penghafal Alquran. Aamin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Jadilah Kuat Seperti Hafshah

Sebagaimana manusia pada umumnya, Allah pun memberi ujian dan cobaan kepada Hafshah untuk menjadikannya pribadi yang lebih kuat. Suaminya, Khunais bin Hudzafah, salah seorang sahabat yang pertama masuk Islam, gugur sebagai syuhada di jalan Allah saat meruntuhkan kekuatan orang-orang kafir saat berperang. Luka-luka yang menganga di tubuhnya, kelak akan menjadi saksi bisu di hadapan Allah bahwa ia telah berjuang menegakkan dien-Nya.

Sungguh, perpisahan itu pasti sangat menyayat hati Hafshah, Nak. Ia harus kehilangan suami yang sangat dicintainya dan menjadi janda di usianya yang masih muda. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa bahagia karena suaminya menghadap Allah dengan cara yang sangat mulia.

Kita harus yakin, Nak, bahwa dalam setiap kesabaran atas ujian, Allah telah menyiapkan hadiah yang terbaik untuk kita. Saat ayah Hafshah ingin menikahkannya kembali dengan sahabatnya, ia justru mendapat berita yang sangat menggembirakan dari Rasulullah.

Rasulullah berkata, “Hafshah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Usman dan Usman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah.”

Ternyata, Rasulullah mengkhitbah dan kemudian menikahi Hafshah. Ini adalah karunia yang telah Allah janjikan atas kesabaran dan keridhoan Hafshah dalam menerima ujian yang telah menimpanya, sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 153, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Kehidupan Hafshah dengan Rasulullah memang sarat dengan makna dan takwa. Namun, seperti wanita pada umumnya, ia memiliki sifat pencemburu. Pernah suatu ketika, Rasulullah tinggal lebih lama dari jatahnya di rumah Zainab binti Jahsy karena beliau ditawari madu. Hal itu memunculkan kecemburuan pada diri Aisyah dan Hafshah. Merekapun bersepakat, jika Rasulullah menemui salah seorang dari keduanya, mereka akan mengatakan bahwa beliau telah memakan buah maghafir.

Rasulullah mengatakan, “Aku tidak makan buah maghafir. Aku hanya minum madu di tempat Zainab dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Kecemburuan Hafshah pun memuncak saat Rasulullah mendatangi budak beliau yang bernama Mariyah Al Qibthiyyah di rumah Hafshah. Rasulullah menyuruhnya untuk tidak mengatakan peristiwa itu kepada siapa pun, namun ia mengingkarinya dengan menceritakannya kepada Aisyah. Hal itu menyebabkan keharmonisan rumah tangga Rasullah dengan istri-istrinya menjadi terganggu.

Sejak saat itu, Rasulullah menjauhi istri-istrinya untuk sementara, dengan niat memberi mereka pelajaran. Atas peristiwa yang dialami Hafshah, Allah memberinya teguran dengan turunnya surat At-Tahrim ayat 3-5.

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan”.

Teguran itu sungguh sangat menggetarkan hati dan jiwa Hafshah, Nak. Sejak saat itu, ia bertobat, semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki ibadahnya, memperbanyak puasa dan shalat malam, hingga membawanya meraih kemuliaan.

Begitulah, semoga kita semua dapat meneladani segala kebaikan yang ada dalam diri Hafshah binti Umar, sang wanita mulia pendamping Rasulullah di surga. Sungguh, jalan yang akan kita lalui mungkin tidak seberat yang telah dilalui oleh Hafshah. Namun ingatlah, bahwa selalu ada Alquran yang akan mengubah gelap menjadi terang dan menjadikan yang sempit menjadi lapang.

#kisahinspiratifshahabiyah

#antologiJA

#Joeraganartikel

 

Referensi

- Hanifah. 2008. Biografi Hafsah binti Umar RA. https://www.aihanifah.com/biografi-hafsah-binti-umar-ra

- NN. 2008. Hafshah binti Umar bin Khattab, Pendamping Rasulullah di Surga. https://m.republika.co.id/berita/shortlink/7405

- Rumaisa, Ummu. 2015. 77 Cahaya Cinta di Madinah. Al Qudwah Publishing.  

 

Tentang Penulis

Laela Nur Baity, lahir di Purwokerto 21 Mei 1990. Perempuan yang mencintai dunia kepenulisan ini menamatkan studinya pada program sarjana Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian Bogor. Ibu yang memiliki satu orang anak ini sedang giat mengikuti training kepenulisan, mengikuti beberapa proyek antologi, dan sedang menggarap novel perdananya. Mantan guru bimbel yang suka berbisnis online ini memiliki cita-cita untuk menghasilkan banyak karya melalui tulisan. Penulis bisa dihubungi melalui email di laelanurbaity1212@gmail.com atau melalui facebook di https://www.facebook.com/laela.nurbaity.


Post Terkait

Comments