Kupasrahkan Hidup untuk Bersabar pada Takdir Allah

Aku sadar bahwa hidup tak selalu indah. Dalam hidup yang kujalani, pasti ada kerikil-kerikil yang mengganggu. Cobaan datang dan pergi. Namun, di balik itu semua, aku sadar bahwa aku harus tetap bahagia. Ya, meskipun cobaan yang Allah berikan begitu berat, bukan berarti aku tak bisa hidup sabar dan bahagia.

Seperti salah satu kisah shahabiyah di zaman Rasulullah, seorang perempuan yang kuat dan teramat sabar. Mungkin tak akan pernah ada perempuan yang lebih sabar dibandingkan beliau. Begitu hebatnya beliau menghadapi cobaan yang Allah berikan. Kisah shahabiyah inilah yang membuat diriku begitu terinspirasi.

Ya, siapa lagi jika bukan Ghumaisho atau Rumaysho binti Milhan, yang juga dikenal dengan sebutan Ummu Sulaim. Beliau adalah salah satu shahabiyah yang begitu penyabar. Kehilangan anak yang sangat dicintainya tak membuat beliau menyerah dalam hidup. Meski aku belum pernah merasakan kehilangan anak, namun aku tahu, sebagai perempuan dan ibu, hal itu tak mudah untuk diterima. Jika aku di posisi beliau, pasti aku tak akan bisa sekuat dan sesabar Ummu Sulaim. Masya Allah.

Kisah Ummu Sulaim sangat menginspirasi. Aku selalu katakan kepada diri sendiri untuk tidak menyerah dalam keadaan apa pun. Cobaan yang begitu besar dalam hidup yang kulalui belum seberapa dibandingkan dengan para shahabiyah. Lalu, apa pantas diriku merasa paling merana? Padahal, masih banyak perempuan lain yang mendapatkan cobaan yang jauh lebih berat. Bahkan, mungkin saja sama seperti cobaan yang dialami oleh Ummu Sulaim, yaitu kehilangan anak.

Salah satu bentuk kesabaran yang patut dicontoh dari Ummu Sulaim adalah saat beliau kehilangan putra tercinta, tetapi tetap dapat melayani sang suami tanpa ada rasa sedih di wajah. Dikisahkan dari Anas bin Malik ra, saat suami Ummu Sulaim, Abu Thalhah, sedang pergi, putra mereka yang sakit meninggal dunia. Sebagai seorang ibu, Ummu Sulaim tentu terpukul dengan kepergian putranya. Namun, ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim menyembunyikan kesedihannya. Saat sang suami menanyakan putranya, dijawabnya bahwa sang anak berada dalam keadaan tenang.

Setelah itu, Ummu Sulaim menyiapkan makan malam untuk suaminya. Beliau juga berhias dengan begitu cantik untuk melayani suaminya dan barulah kemudian Ummu Sulaim memberitahukan perihal kepergian putra mereka. Abu Thalhah sangat marah dan menemui Rasulullah. Namun, Rasulullah justru mendoakan kiranya Allah memberkahi Abu Thalhah dan istrinya. Doa Rasulullah dikabulkan, Ummku Sulaim mengandung dan kemudian melahirkan seorang bayi.

Kisah kesabaran Ummu Sulaim inilah yang patut kujadikan standar dalam kehidupanku. Bahwa hidup tak selamanya indah dan pasti ada saja yang tak sesuai dengan keinginan. Aku tahu, pasti ada saja cobaan dalam kehidupan yang membuat diri ini lemah dan ingin menyerah. Namun, kutahu hal ini tak boleh terjadi pada diriku.

Bersabar, inilah yang harus aku pegang. Penantian panjang untuk menemukan pasangan memang tak mudah aku lewati. Begitu pelik, sulit, dan menguras air mata. Sudah tak terhitung lagi berapa kali diriku disakiti oleh para lelaki tak baik di luar sana. Namun, itu bukanlah akhir segalanya. Dengan merenungi kesabaran Ummu Sulaim, aku yakin bahwa hidup sejatinya adalah ujian untuk setiap hamba-Nya. Diriku yang masih banyak berlumur dosa tak pantas untuk mengeluh. Allah sudah begitu baik padaku, cobaan-cobaan yang Dia berikan tentu dapat menghapus dosa-dosaku. Lalu, mengapa aku tak pandai bersyukur?

Seharusnya, cobaan dalam bentuk penantian panjang yang Allah berikan adalah suatu hal yang dapat membuatku menjadi orang yang lebih sabar, lebih baik akhlaknya, dan sadar untuk memantaskan diri hanya di hadapan Allah, bukan di depan makhluk-Nya. Sabar dalam penantian, sabar dalam kepastian-Nya, dan yakin bahwa sabar akan selalu membuat aku hidup lebih bahagia.

Setiap orang memiliki cobaannya sendiri, bukan diriku saja yang mengalami pahitnya penantian. Jika orang lain saja bisa untuk bangkit dan tak merana, kenapa diriku begitu lemah hanya karena hal ini? Memang, aku sadar, aku bukanlah orang yang mudah untuk menerima segala takdir yang Allah beri. Diriku ini termasuk salah satu manusia yang tak suka jika hidup tak sesuai dengan keinginan, sampai akhirnya aku mengenal kisah Ummu Sulaim.

Membaca kisah Ummu Sulaim membuat diriku serasa tertampar. Ternyata, penantian panjangku dalam menunggu pasangan sejati bukanlah hal yang berat. Pastilah jauh lebih berat ditinggalkan oleh orang-orang yang paling disayangi. Kisah Ummu Sulaim begitu menyadarkanku. Begitu pilu kisahya, hingga diriku pun sekarang ini malu untuk mengeluh kepada Allah hanya karena lelah dalam penantian panjang menunggu pasangan.

Berprasangka baik kepada takdir Allah-lah yang seharusnya selalu kupegang teguh, supaya hidupku semakin bahagia dan tak mudah mengeluh saat cobaan datang. Setiap cobaan datang seharusnya bukanlah hal yang meresahkanku. Seharusnya aku yakin, Allah punya rencana hebat di setiap cobaan yang datang pada setiap hamba-Nya. Aku pun seharusnya percaya, dengan adanya cobaan yang Allah beri, Allah akan menaikkan derajatku setelahnya. Begitulah arti hidup yang kuambil dari kisah Ummu Sulaim.

Tentu, kehilangan anak adalah hal yang teramat menyedihkan. Namun, karena akhlak Ummu Sulaim begitu mulia, beliau tetap bersabar menghadapi cobaan yang sangat menyakitkan itu. Hal itulah yang membuat beliau pantas mendapatkan surga-Nya.

Memang pantas seorang Ummu Sulaim diberikan oleh Allah tempat yang paling mulia di akhirat nanti, disebabkan sifat sabarnya. Begitu hebatnya seorang Ummu Sulaim, hingga Rasulullah pun sudah mendengar suara langkah kaki Ummu Sulaim di surga. Masya Allah.

“Ketika aku memasuki surga, aku mendengar suara langkah kaki, lalu aku bertanya: “Siapa itu?” Malaikat menjawab: “Itu Ghumaisho’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim: 4494)

Kedudukan mulia yang Allah berikan kepada beliau membuatku begitu terpana. Dari kisah Ummu Sulaim pula akhirnya aku sadar, setiap kesabaran pasti akan Allah balas dengan hal yang tak pernah disangka-sangka. Aku hanya perlu tetap bersabar di dalam setiap cobaan. Tidak hanya saat penantian sekarang ini, tetapi juga ketika nanti akhirnya Allah mempertemukanku dengan pasangan yang diridai-Nya.

Kisah lain Ummu Sulaim sebagai perempuan pemilik mahar paling mulia juga membuatku begitu mencintai sosok beliau. Ummu Sulaim meminta mahar kepada calon suaminya berupa keislaman dari sang suami dan itu adalah mahar yang paling mulia. Masya Allah. Semoga, saat akhirnya nanti Allah mempertemukanku dengan pendamping hidup, aku pun termasuk perempuan yang mempunyai mahar yang mulia. Meski tak semulia mahar Ummu Sulaim, setidaknya diriku tak membebani calon suamiku dengan mahar yang mahal dan mewah.

Dari semua kisah shahabiyah, kesabaran Ummu Sulaim-lah yang paling membekas di hati. Bagiku, beliau adalah orang paling sabar di dunia dan patut dijadikan contoh. Sekarang, dengan hati lapang, diriku berikrar dengan nama Allah, hidup ini hanya akan kupasrahkan pada takdir yang Allah beri. Semoga aku bisa menjadi orang yang sabar dalam setiap cobaan, meski tak bisa menyamai kesabaran Ummu Sulaim. Setidaknya, aku tak lagi mengeluh tentang penantian panjang untuk bertemu dengan pasangan sejatiku dan tak menyerah dalam menghadapi berbagai macam problematika hidup.

Ya Allah, beri aku kemudahan untuk meniru kesabaran Ummu Sulaim. Segala ikhtiar dan doa yang aku panjatkan semoga Engkau mudahkan dan kabulkan.

 

 #kisahinspiratifshahabiyah

#joeraganartikel

#antologiJA

 

Penulis: Steffi Budi Fauziah


Post Terkait

Comments