Ibunda Khadijah, Napas Perjuanganku Khadijah Hanif

Merintis pendidikan pesantren di tahun 1997 bukanlah hal mudah. Keterpurukan kondisi ekonomi menjelang era reformasi menambah beban hidup yang cukup berat saat itu. Seluruh anggota badan pengelola pesantren harus bertahan di antara idealisme dan rasionalitas dalam perjuangan.

Konsep keterpaduan antara pendidikan pesantren dan sekolah menjadi alasan kami untuk membuka jalur pendidikan formal, sebuah SMP Islam Terpadu. Santri angkatan pertama kami saat itu berjumlah 45 orang, jumlah yang cukup banyak untuk tahun pertama sebuah pesantren baru.

Berkat topangan dana dari seorang pengusaha yang juga pemberi wakaf, kami berani menggratiskan seluruh biaya pendidikan. Namun, hal ini tak berlangsung lama karena krisis moneter mulai berdampak pada perusahaan donatur tetap kami. Dengan sangat terpaksa, badan pengelola dan yayasan bersepakat mengumpulkan wali santri dalam sebuah rapat. Hasil keputusan rapat, orang tua diimbau berinfak semampunya dalam bentuk apa pun yang bisa mereka sumbangkan pada pesantren.

Di luar dugaan kami, hampir setengah orang tua yang menitipkan anaknya memilih untuk menarik anak mereka dari pesantren. Kami hanya bisa berbaik sangka bahwa mereka mundur bukan karena tidak mau berinfak, melainkan lebih karena kondisi perekonomian yang juga mencekik leher sebagian besar rakyat kecil.

“Ummi, maafkan Abi, gaji bulan ini hanya kita terima 30%. Keuangan pesantren belum stabil,” ucap suamiku saat menerima gaji bulan Juli 1998, bulan pertama dampak krisis mulai terasa oleh kami.

“Abi enggak perlu minta maaf. Ummi juga anggota badan pengelola, jadi tahu persis keadaan pesantren ini. Lagi pula, kita mendapat jatah makan dari dapur santri, tidak perlu belanja makan sehari-hari, kan?”

Meskipun gaji yang kami terima tidak banyak, aku berusaha menyisihkan untuk menambah simpanan. Rencananya, untuk pulang mudik Idul Fitri tahun depan, yang akan jatuh di bulan Januari 1999. Pikirku, lumayan untuk membeli baju setahun sekali dan membahagiakan orang tua di kampung halaman.

Manusia sekedar berencana, Allah Swt yang paling berkuasa menentukan kehendak-Nya.

“Ummi, tabungan kita ada berapa?” tanya suamiku suatu hari.

Aku mengambil buku tabungan dan memperlihatkannya pada suamiku.

“Santri kita ada yang sakit kulit. Sudah beberapa kali berobat ke dokter umum, tapi tidak sembuh juga, malah semakin parah kondisinya. Abi pinjam dulu buat berobat ke dokter spesialis kulit di kota. Nanti, kalau orang tuanya datang dan membayar biaya pengobatannya, Ummi bisa simpan lagi ke tabungan.”

Awalnya, aku tidak keberatan meminjamkan uang tabunganku. Apalagi, kesehatan santri termasuk hal prioritas yang diutamakan suamiku sebagai pengasuh santri. Sebagian ada yang mengganti biaya pengobatan dan sebagian lagi tidak. Tabunganku pun menipis, hingga aku harus mengikis harapanku untuk bisa pulang kampung.

Sebagai manusia biasa, terkadang aku lepas kendali dan melancarkan protes halus kepada suamiku.

“Abi, orang tua kita juga punya hak untuk kita bahagiakan. Kapan lagi bisa membahagiakan mereka? Mumpung mereka masih ada. Anak-anak kita juga punya hak untuk dipenuhi harapannya selagi kita mampu.”

“Sabar, Ummi, Abi juga memikirkannya. Pengorbanan kita belum seberapa bila dibanding Ibunda Khadijah. Awalnya, dia saudagar wanita terkaya di Kota Mekah, tapi rela jatuh miskin untuk menghidupkan syiar agama Allah. Saat wafat, hanya kain lusuh yang menempel di badannya. Mendekati ajalnya, beliau menangis tersedu di hadapan Rasulullah. Bukan karena beliau jatuh miskin, tapi karena tidak ada lagi yang bisa dia korbankan untuk perjuangan.”

Aku merinding mengingat kembali kisah kidup Ibunda Khadijah dalam membela agama Allah dan Rasul-Nya. Kisah yang beberapa kali aku baca dan akan selalu kubaca saat merasakan beratnya perjuangan syiar agama melalui lembaga pendidikan pesantren ini.

Ada satu bagian yang paling mengharu-biru dari kisah Ibunda Khadijah.

Saat itu, derita perjuangan mendera. Seluruh kekayaan mereka telah habis. Sering kali, makanan pun tak punya. Ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar, melainkan darah. Darahlah yang masuk ke dalam mulut bayi Fatimah.

Kemudian, Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah, yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah, berbaring di pangkuan Khadijah dan tertidur. Dengan penuh kelembutan dan rasa saying, Ibunda Khadijah membelai kepala Rasulullah. Tak terasa, air mata Ibunda Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” tanya Rasulullah dengan lembut.

“Dahulu, engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini, engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhimu, seluruh kekayaanmu juga telah habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah, tak kuasa melihat istrinya menangis.

Ibunda Khadijah menjawab, ”Wahai suamiku, wahai nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan. Dahulu, aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu telah kuserahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu, aku adalah bangsawan, kebangsawanan itu juga sudah kuserahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu, aku memiliki harta kekayaan, seluruh kekayaan itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Ya Rasulullah, sekiranya nanti aku mati, sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan atau sungai namun tidak memperoleh rakit ataupun jembatan, galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.”

Rasa malu menyelinap dalam lubuk hatiku. Pengorbananku hanya sebutir debu dibandingkan dengan pengorbanan Ibunda Khadijah.

***

Ujian berat kembali menghampiriku. Waktu itu, hari ke-23 bulan Ramadan tahun 2002. Suamiku pergi pagi-pagi sekali untuk mengantar rombongan santri yang akan pulang ke Jakarta. Semua ada sebelas orang, termasuk suamiku dan seorang santri pengurus MST (nama organisasi pelajar di pesantren kami).

Malam-malam menjelang Subuh, suamiku pulang, berdiri di depan pintu. Dengan wajah pucat, ia melangkah lunglai ke dalam rumah.

“Ummi, sabar, ya, Abi dapat musibah. Mobil yang kita pinjam dari Mang Marwan terbalik. Sekarang sudah ada di bengkel.”

Aku kaget dan bersedih, tetapi rasa syukur lebih memenuhi ruang hatiku.

“Alhamdulillah, yang penting Abi selamat.”

Sungguh ajaib, suamiku tidak terluka segores pun, padahal mobil terbalik dan melintang di tengah jalan, seluruh kacanya pecah terburai. Seorang santri yang mendampinginya pun hanya sedikit tergores di bagian kening.

“Beruntungnya lagi, jalanan malam itu sepi dari kendaraan dan penduduk kampung sekitar langsung memberi bantuan. Semoga ini berkah pengorbanan Ummi yang diterima Allah sebagai amal jariyah. Maafkan Abi kalau Abi minta pengorbanan Ummi untuk kesekian kalinya”

“Tidak apa-apa, Abi. Pakai saja tabungan Ummi, juga hasil uang arisan Ummi yang baru kemarin siang Ummi terima, buat biaya bengkel.”

Sebenarnya, uang hasil arisan itu untuk biaya akikah anak kedua kami yang lahir empat hari lalu.

Kisah Ibunda Khadijah kembali terbentang dalam benakku.

“Ya Rasulullah, aku memohon maaf kepadamu, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu,” begitu ucap Khadijah.

“Jauh dari itu, ya Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya,” jawab Rasulullah.

Khadijah kemudian memanggil Fatimah Az-Zahra dan berbisik kepadanya, ”Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba. Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, karena aku malu dan takut memintanya sendiri. Mintalah agar beliau memberikan sorban yang biasa digunakan saat menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku.”

Hari itu menjadi hari penuh hikmah buat kami. Bukan hanya keselamatan suamiku, tetapi juga bantuan yang mengalir dari kerabat, teman dan saudara, sangat kami syukuri. Semuanya begitu berempati untuk menolong, lebih dari yang kami butuhkan untuk membetulkan mobil Paman yang rusak berat.

Terimakasih, Ibunda Khadijah. Teladan sifat dermawanmu dan pembelaan pada perjuangan suami selalu membantuku menerima keadaan. Apa pun ujian yang kami hadapi, kau seakan mengingatkanku untuk bersabar dan zuhud pada dunia. Semoga rahmat dan berkah Allah Swt selalu tercurah untuk Ibunda Khadijah, juga keluarga kami.

#kisahinspiratifshahabiyah

#joeraganartikel

#antologiJA

Referensi: 1. Kitab Al Busyra fii Manaqib Sayidah Khadijah Al Qubra, karya Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili. Penerbit: Hai'ah Ash-Shofwah al-Malikiyyah 2. Biografi Istri-Istri Para Nabi, karya Dr. Musthafa Murad. Penerbit: Qiblatuna  

Profil Penulis Khadijah Hanif, anggota Badan Pengelola Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Tasikmalaya dan Pengurus Yayasan Aminul Ummah, Garut. Ibu tiga orang anak ini lahir di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dan sedang merintis pesantren di kota kelahirannya. Penulis juga sedang menekuni dunia tulis-menulis dengan banyak bergabung di komunitas penulis, antara lain Jejak Publiser, Dandelion Authors, Forum Lingkar Pena-Garut dan Wonderland Creative. Aktif ngeblog dengan tajuk TITINHASTUTI’S BLOG dan bisa dihubungi melalui facebook dengan akun Titin Harti Hastuti.


Post Terkait

Comments