Ibu, Bunda Khadijah Kami

“Sudah sampai mana, Kinan? Berangkat jam berapa dia dari Sidoarjo? Mau pulang jam berapa? Ini sudah sore, katanya mau jenguk ke rumah sakit? Segera ke sini! Bilang sama Kinan!” suara Bapak terdengar dari gawai yang dibawa Ibu dengan nada emosi. Ibu sedang meneleponku waktu itu.

“Iya, sudah kubilang pada Kinan. Sabar sedikit kenapa sih, Pak? Dia masih di bengkel mobil, AC-nya mati. Kinan masih di Sidoarjo. Sepertinya sampai rumah sakit malam. Ini, mau bilang sendiri ke Kinan kah?” lanjut Ibu berusaha menenangkan dengan telepon yang belum dimatikan.

Ndak usah, suruh segera ke sini saja!” suara Bapak mulai melemah tidak sekeras di awal tadi.

Dan aku melanjutkan telepon dengan Ibu, mengatakan bahwa kami akan segera berangkat. Tinggal menunggu suami selesai beraktivitas, kami berusaha berangkat secepatnya.

Suara perdebatan bapak ibu di telepon yang memintaku segera menjenguk kembali bapak di rumah sakit waktu itu adalah suara perdebatan terakhir yang aku dengar. Karena lima belas menit setelah itu, Ibu mengabarkan jika bapak sudah menghadap Sang Khalik. Tepat empat puluh hari menjelang Ramadan tiba.

Dalam berkomunikasi terutama disituasi genting, seringkali komunikasi Bapak dan Ibu selalu diawali dengan perdebatan. Sepintas terlihat tidak ada romantisnya. Namun uniknya, kemana-mana beliau selalu berdua. Hang out ala zaman old adalah hobi yang beliau berdua sering lakukan meskipun usia sudah tak lagi muda, akan tetapi semangat untuk jalan-jalan sekaligus refresing bukan sebuah kendala. Yang penting selalu berdua!

Hal-hal sederhana yang beliau berdua sering lakukan, seperti makan soto kesukaan di tempat yang dulu jadi kenangan, putar-putar kota hanya untuk melihat perkembangan jalan baru dibuka jalurnya, hingga hanya hang out ke terminal di kota lain. Seru, kan!

Jadi tak heran, jika para tetangga di desa melihat pasangan Bapak Ibuku ini selalu terlihat mesra dan romantis.

Sejak Bapak divonis tidak bisa jalan lagi di tahun 1983 dikarenakan jatuh dari Pohon Manicu dengan ketinggian dua meter, mutlak semua urusan perekonomian keluarga dipegang oleh Ibu. Kami tiga bersaudara masih kecil kala itu. Kakakku yang tertua baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar dan adik terkecilku masih berumur 3,5 tahun. Sedangkan aku sendiri masih duduk di sekolah Taman Kanak-Kanak.

Saat itu Bapak dan Ibu adalah pasangan muda. Sebuah kondisi yang tidak mudah tentunya. Mengingat sebelumnya Ibu juga mempunyai trauma masa kecil saat ditinggal Mbah Kakung meninggal dengan kondisi keluarga yang penuh tekanan serta sempat terpisah-pisah untuk kepentingan sekolah.

Ironis memang saat Ibu mulai merasakan arti bahagia bersama keluarga, mendadak trauma masa lalu seolah menghampiri beliau kembali. Sebuah tekanan mental yang luar biasa pastinya. Namun Ibu berusaha bangkit, sadar bahwa kondisi kurang baik yang pernah beliau rasakan kala itu tidak ingin terulang kembali pada putra putrinya.

Dengan keterbatasan yang beliau punya, berbekal gaji guru PNS Sekolah Dasar ditambah gaji pensiun dini dari Bapak, Ibu berusaha move on. Terus berjuang untuk masa depan putra putrinya dan menjadi penghibur juga peringan hati Bapak untuk terus bersabar dan bertahan demi kebahagian keluarga kecil mereka.

Bersama Bapak, Ibu mengelola keuangan keluarga, berusaha memberikan tempat berteduh yang layak, serta pendidikan terbaik bagi kami putra putrinya. Sehingga kami bertiga bisa menikmati bangku perkuliahan dengan baik. Membuat kami bisa mandiri saat dewasa dan tidak bergantung pada orang lain.

Walaupun pendapatan Ibu lebih banyak, beliau tidak pernah merendahkan Bapak. Pun tidak terbersit untuk meninggalkan Bapak dengan kondisi fisiknya yang sudah tidak bisa jalan. Ibu berusaha menolak jika diajak berboncengan dengan teman sejawat yang bukan muhrim karena berusaha menghormati bapak. Jika ada urusan diluar sekolah, sebagai gantinya salah satu dari kamilah yang sering diajak untuk menemani beliau. Dan dalam setiap situasi Ibu tetap memposisikan Bapak sebagai kepala keluarga dengan meminta pendapat, nasihat juga penentu kebijakan keluarga. Peran Ibu memang luar biasa!

Pernah suatu waktu Bapak menjadi sering marah, biasanya saat aku dan kakakku mulai dihadapkan untuk membayar SPP Semester di kampus dalam jumlah lumayan besar. Sedangkan adik sudah mulai memasuki bangku sekolah menengah atas saat itu. Kemarahan Bapak tidak lebih dikarenakan keinginan untuk meringankan beban Ibu, namun terkendala kondisi Bapak yang terbatas karena jalan hanya memakai krek saja.

Dan Ibu dengan cintanya pada keluarga selalu menjadi penghibur serta peringan hati Bapak, meskipun terkadang kata-kata olok-olok bak anak kecil juga sering beliau berdua saling lempar. Hanya beliau berdua saja yang paham cara komunikasi mereka. Anak-anaknya seringkali salah paham, terlihat seperti bertengkar padahal tidak.

Karena kondisi Ibu yang mulai menurun dan sering keluar masuk sumah sakit akibat Diabetes yang menggerogoti tubuh Ibu akhir-akhir ini, kami menyarankan agar bapak ibu bersedia tinggal bersama kami. Tapi beliau berdua menolak. Beliau tetap lebih menyukai tinggal di salah satu kota kecil belahan Jawa Timur yang berjarak 100 km dari tempat kami tinggal. Walaupun aku dan suami sudah sering menawarkan untuk tinggal bersama. Alasan beliau kasihan jika rumah dan tanamannya tidak terurus.

Peran Ibu sangat penting bagi kami bertiga putra putrinya, tanpa Ibu, kami tidak bisa tumbuh dengan baik bahkan mustahil bisa sekolah sampai bangku perguruan tinggi. Pentingnya peran Ibu membuat bapak sangat menyayangi beliau.

Bagiku, melihat sepak terjang Ibu mengurus kami. Teringat kisah Ummul Mukminin, Bunda Khadijah Binti Khuwalid istri pertama Rasulullah saw ketika dalam masa pengucilan oleh kaum musyrikin Quraisy bersama keluarga dan kaum muslimin lainnya di pegunungan selama tiga tahun penuh.

Bunda Khadijah selalu melindungi dan menyayangi kaum muslimin di masa pengasingan bak ibu kepada anak-anaknya. Selama masa blokade tersebut, makanan, perkawinan, dan perdagangan diharamkan untuk kaum muslimin beserta keluarganya. Sebuah kesengsaraan luar biasa yang hanya bisa ditebus dengan ketabahan dan keikhlasan yang juga luar biasa pula.

Bunda Khadijah yang terlahir sebagai bangsawan dan terbiasa hidup di lingkungan mewah, tetap tidak canggung meninggalkan rumah beliau yang luas dan memasuki kamar sempit di pengasingan itu. Banyak orang terharu melihatnya, namun bunda Khadijah seolah tak peduli. Beliau segera memusatkan diri pada tugas menolong kaum muslimin yang lain.

Pada masa pengucilan itu, hal yang paling berharga adalah air. Dan tanpa berpikir panjang Bunda Khadijah membeli air dengan keping-keping emas yang dimilikinya. Bunda Khadijah menjadi bidadari pelindung kaum muslimin yang dilanda derita waktu itu.

Bukan hanya itu, kecuali Ustman bin Affan dan Zubair bin Awwam yang mampu membiayai perjalanannya sendiri saat mengungsi ke Habasyah untuk menghindari tekanan dan penyiksaan kaum muslimin dari kaum musyrikin Quraisy. Bunda Khadijah-lah yang membiayai perjalanan jauh mereka ke Habasyah untuk kaum muslimin yang lemah dan miskin tersebut.

Kemurahan hati Bunda Khadijah diabadikan dengan indah dalam Alquran dalam firman-Nya, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Qs At Taubah: 8)

Peran besar Bunda Khadijah dalam penyelenggaraan dakwah Islam pada masa awal kerasulan Muhammad saw tak patut kita pertanyakan lagi.

Saat sang suami belum diangkat rosul oleh-Nya, bunda Khadijah senantiasa menyiapkan rumah yang nyaman bagi Rasullullah saw. Sebuah rumah untuk tempat berlindung dan beristirahat disaat lelah. Beliau juga dengan setia menyertai Rasullullah saw dalam setiap peristiwa, baik bernuansa suka maupun duka.

Suatu hari Rasullullah saw dalam keadaan gelisah dan kebingungan setelah menerima wahyu pertama. Bunda Khadijah menghibur serta memantapkan hati suaminya bahwa kelak sang suami akan menjadi nabi/rasul sehingga dapat mengangkat tinggi derajat kaumnya. Begitu pula saat wahyu kedua turun yang berisi perintah untuk mulai berjuang menyebarkan agama Allah dan mengajak kaumnya kepada agama tauhid. Bunda Khadijah adalah orang pertama yang percaya bahwa suaminyaa adalah rasul Allah Swt.

Kondisi masyarakat yang menjadi target dakwahnya sangat buruk, berada dalam masa kebodohan (jahiliyah) hingga membuat Rasulullah merasa sangat letih dan sedih. Bunda Khadijah terus-menerus menghibur dan membangkitkan semangat beliau. Khadijah senantiasa menjadi pendukung utama dan bertekad untuk selalu berani menghadapi derita bersama. Hal ini membuat sang suami (Rasulullah) benar-benar merasa tenang dalam berjuang.

Dan dalam kedermawanan, Bunda Khadijah tak perlu diragukan lagi. Beliau selalu sigap menyumbangkan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah Islam Sehingga hati Rasulullah saw senantiasa terkuatkan oleh perilaku sejuk Bunda Khadijah. Sejarah pun telah mencatat peran Khadijah r.a sebagai peringan kesusahan hati Rasullulah saw dan peran besarnya dalam penyebaran Islam.

Itulah sebabnya Rasullullah saw sangat menghormati Khadijah r.a bahkan hingga sepeninggal beliau.

Ibu kami memang tidak sesempurna akhlak Bunda Khadijah r.a. Tapi seperti bunda Khadijah, bagi kami ibu adalah tauladan bagaimana berperan sebagai istri, pendamping terbaik buat suami. Terutama di masa-masa sulit pernikahan.

Di masa sulit itu, ibu memilih tetap bertahan sebagai istri yang baik bagi suami dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Meskipun trauma masa kecil beserta dampaknya pun belum sembuh total dari psikis Ibu.

Beliau terus berjuang dengan segala kekurangan agar putra-putrinya tetap sekolah hingga perguruan tinggi. Ibu selalu berusaha sabar, hingga mengantarkan putra putrinya ke jenjang pernikahan dan terus mendoakan yang terbaik buat putra putrinya.

Namun semenjak bapak meninggal pada empat puluh hari menjelang Ramadan di tahun 2018, semangat Ibu berjuang melawan sakit diabetesnya pun mulai redup. Mungkin Ibu merasa sudah selesai tugas beliau sebagai istri dan ibu mengawal putra putrinya. Hingga di penghujung Ramadan, sepuluh hari menjelang hari nan Fitri di tahun yang sama, Ibu berpulang menghadap sang Khalik menemani bapak tidur panjang di alam barzah.

Selamat jalan Bapak dan Ibu ku tersayang ... Semoga Allah Swt. mengampuni dosa beliau berdua, menerima segala amal ibadahnya, melapangkan kuburnya dan menempatkan bapak ibu bersama orang-orang yang sholeh. Aamiin ya Allah.

#kisahinspiratifshahabiyah

#joeraganartikel

#antologiJA

 

Referensi: 1. Kisah Istri-istri Nabi, karya Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher 2. Kisah-Kisah Sahabat Wanita Rasulullah, karya Adiba A. Soebacham, Araska Publisher

 

Profil Penulis:

Nanik Kristiyaningsih, tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur Menyelesaikan kuliah di D3 Teknik Kimia-ITS dan Univ WR Supratman jurusan Teknik Kimia. Sekarang bekerja di PT Dexa Medica. Arti kegiatan menulis baginya adalah penyaluran hobi yang sudah lama dia tinggalkan, baginya menulis merupakan sebuah kenikmatan disela aktivitas di kantor dan juga di lapangan, dia bisa mengeksprisikan sisi lain dari dirinya lewat kegiatan menulis yang tidak bisa diekspresikan saat beraktivitas sebagai karyawan kantor. Facebook: Nanik Kristiyaningsih IG: nix6989


Post Terkait

Comments