AL-QURAN TURUN UNTUK MENYELAMATKAN

Shahabiyah Nabi Muhammad adalah sahabat perempuan Nabi Muhammad , generasi terbaik yang pernah dikenal umat manusia. Mereka adalah sekelompok orang yang dipilih Allah untuk mendampingi nabi-Nya. Mereka ialah manusia paling baik hati, dalam pikirannya, dan paling sedikit memaksakan diri.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.’’ (QS: Ali ‘Imran[3]: 102).

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.’’ (QS: An-Nisa`[4]: 1).

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS: Al-Ahzab[33]: 70-71).

Di antara para shahabiyah Nabi Muhammad , saya sangat terinspirasi dengan kehidupan Ummu Kultsum. Hijrah penuh berkah.

Saya dilahirkan dalam keluarga Islam yang penuh kasih sayang. Sejak kecil saya hidup bahagia bersama empat saudara lainnya. Sewaktu kecil kami mengaji di masjid dan sudah dikenalkan Alquran. Semenjak SD hingga SMP, saya masih tinggal bersama orang tua. Setelah lulus SMP, saya pun melanjutkan SMA di kota lain dan tinggal bersama keluarga paman dan bibi dari pihak ibu. Usai lulus SMA, saya berkuliah di Kota Hujan nan sejuk. Selama SD sampai kuliah, saya selalu membaca surah Yasin, akan tetapi belum berhijab.

Suatu hari saya mantap untuk hijrah dan mulai memakai hijab. Hati saya mengatakan agar menguasai Alquran. Hal ini dikarenakan saya menyadari bahwa Alquran turun untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman kaum musyrikin. Sebelum berhijab banyak pelajaran hidup yang saya peroleh. Saya pun bertekad untuk memperbaiki diri dan berubah menjadi lebih baik.

Saya adalah orang yang ambisius. Apa yang saya mau harus saya dapatkan, walaupun dengan usaha sendiri. Saya hanya memastikan untuk selalu berada di jalur yang positif. Sebagai contoh, saat berkeinginan meraih peringkat pertama di kelas, maka saya akan belajar lebih giat. Semua langkah saya terencana dan terukur. Saya terbiasa mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Sehingga berusaha meraih mimpi dan keinginan dengan tangan sendiri adalah hal yang ringan bagi saya. Saya percaya dengan usaha keras serta keyakinan penuh kepada Allah, segala impian akan terwujud. Dan itu memang benar adanya. Saat dalam hati saya ingin sesuatu, Allah Swt. senantiasa mengabulkan. Saya meminta hal lain lagi, Allah Swt. mempermudahnya. Alhamdulillah ….

Saya tidak pernah ragu akan kuasa Allah. Dia akan senantiasa mengabulkan keinginan-keinginan saya, jika meminta dengan sungguh-sungguh. Suatu hari saya memperoleh ilmu tentang hijrah. Pesan di dalamnya begitu membekas di hati. Saya pun meyakini bahwa dalam hidup, apa yang terbaik menurut manusia belum tentu baik di mata Allah Swt.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulaah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’.” (QS: At-Taubah[9]: 24).

Setelah berhijab, semakin mendekatkan diri kepada Alquran.

Allah Swt. berfirman, “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, ‘Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Alquran) ketika (Alquran) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia’.” (QS: Al-Furqan[25]: 27-29).

Pada masanya, Ummu Kultsum hijrah setelah turun ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Aapabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-oraang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka.” (QS: Al-Mumtahanah[60]: 10).

Pada masa sekarang kita pun harus hijrah ke jalan Allah Swt. Di tengah pekerjaan yang kita lakukan, harus tetap mengikuti perintah-Nya. Jangan terbawa arus duniawi. Jangan terbawa arus pergaulan non Islam. Hijrah yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang sekitar.

Saat ini saya merasakan bahwa tidak ada yang lebih penting di dunia ini, kecuali mendahulukan perintah Allah Swt. untuk menggapai rida-Nya.

Dalam Alquran terdapat klasifikasi ayat-ayat seperti berikut:

Bab 1: Sekitar Arkanul Islam;

Bab 2: Iman;

Bab 3: Alquran;

Bab 4: Ilmu dan cabang-cabangnya;

Bab 5: Amal;

Bab 6: Dakwah kepada Allah Swt.;

Bab 7: Jihad;

Bab 8: Manusia dan hubungan kemasyarakatan;

Bab 9: Akhlak;

Bab 10: Peraturan yang berhubungan dengan harta;

Bab 11: Hal-hal yang berhubungan dengan hukum;

Bab 12: Negara dan masyarakat;

Bab 13: Pertanian dan perdagangan;

Bab 14: Sejarah dan kisah-kisah;

Bab 15: Agama-agama.

Semua diatur dalam Alquran. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak boleh lepas dari Alquran.

Dalam kisah shahabiyah Nabi Muhammad , saya pun terinspirasi Ummu Hisyam Binti Haritsah. Diriwayatkan dari Aisyah, ia menuturkan, “Rasulullah bersabda, ‘Aku tidur, lalu aku bermimpi berada di surga. Di sana aku mendengar suara seseorang membaca Alquran, lalu aku bertanya, ‘Siapa dia?’ mereka menjawab, ‘Dia Haritsah bin Nu’man.’ Rasulullah kemudian berkata,’ Itulah (balasan) berbakti (kepada orang tua). Itulah (balasan) berbakti (kepada orang tua). Haritsah sangat berbakti kepada ibunya.’”

Haritsah adalah ayah Ummu Hisyam. Di tengah keluarga penuh berkah inilah, Ummu Hisyam binti Haritsah tumbuh dewasa dengan menghayati kitab Allah Swt. dan sunah Rasulullah .

Pada kehidupan saya sekarang, saya meneladani perilaku Ummu Hisyam Binti Haritsah yang selalu berbakti kepada kedua orang tua. Dari kecil, kami, lima bersaudara, dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan adil. Dengan jarak usia yang dekat, bisa dikatakan seperti susunan tangga, ada yang satu tahun atau dua tahun. Saya sungguh tidak bisa membayangkan kerepotan orang tua tatkala mengasuh kami sewaktu kecil. Betapa hebat dan tangguhnya kedua orang tua membesarkan kami. Begitu pun dalam hal pendidikan. Kami berlima disekolahkan tanpa putus. Semua biaya ditanggung oleh orang tua dengan mencari rezeki yang halal. Alhamdulillah … kami semua diberikan kesempatan kuliah.

Dari lima bersaudara, dua orang S1, satu orang D4, dan dua orang menyandang gelar D3. Semua pencapaian kami ini tak lepas dari peran orang tua. Perjuangan serta usaha orang tua membiayai lima anak yang kuliah tanpa henti, dikarenakan jarak usia yang tak terpaut jauh. Walaupun ada gangguan dari pihak lain yang berpendapat sia-sia dan buang uang menyekolahkan anak-anak sampai kuliah, cukup sampai SMA saja. Tetapi kedua orang tua kami justru berpikir sebaliknya. Bapak dan ibu ingin menyekolahkan kami setinggi-tingginya dan membekali kami dengan ilmu yang cukup. Sungguh saya terharu melihat perjuangan kedua orang tua kami. Oleh karena itulah kami semua antusias menuntut ilmu. Dan kedua orang tua sangat mendukung dalam hal ini. Untuk itu kami pun berusaha memberikan yang terbaik bagi kedua orang tua dengan tidak main-main dalam menempuh pendidikan. Inilah bentuk bakti kami kepada mereka.

#kisahinspiratifshahabiyah

#antologiJA

#Joeraganartikel

 

REFERENSI BIOGRAFI 35 SHAHABIYAH NABI MUHAMMAD , SYAIKH MAHMUD AL-MISHRI. CETAKAN IV.JANUARI 2018 M

Penulis: Helen Fetriani


Post Terkait

Comments